Jumat, 26 Februari 2010

SUAMI WAJIB MENCARI NAFKAH

ALLAH MENYURUH KITA UNTUK BEKERJA

Allah memerintah kita untuk Bekerja sebagaimana dalam Al-Qur’an :
Dalam Al Quran Surat At-Taubah 105: ”Dan katakanlah, "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Dan ingatlah Firman Allah dalam surat An-Nisa’ 34: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”
“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla”. (Hadits Riwayat Ahmad)

Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu….dst
(HR. Abu Zar & Al Hakim )


Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak. (Mutafaq'alaih)
READ MORE - SUAMI WAJIB MENCARI NAFKAH

Beruntung Dunia Akhirat dengan Silaturrahmi

Makna 'ar-rahim' adalah para kerabat dekat. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Ar-rahim secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antar mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak".

Menurut pendapat lain, mereka adalah maharim (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja.

Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian. [Fathul Bari, 10/414]

Silaturrahim, sebagaimana dikatakan oleh Al-Mulla Ali Al-Qari adalah kinayah (ungkapan/sindiran) tentang berbuat baik kepada para kerabat dekat -baik menurut garis keturunan maupun perkawinan- berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka. [Lihat, Murqatul Mafatih, 8/645]

Dalil Syar'i Bahwa Silaturrahim Termasuk Kunci Rizki

Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan silaturrahim termasuk di antara sebab kelapangan rizki. Diantara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah.

[1]. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) [1] maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim" [Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5985, 10/415]

[2]. Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim". [Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5986, 10/415]

Dalam dua hadits yang mulia diatas, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal, kelapangan rizki dan bertambahnya usia.

Ini adalah tawaran terbuka yang disampaikan oleh mahluk Allah yang paling benar dan jujur, yang berbicara berdasarkan wahyu, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka barangsiapa menginginkan dua buah di atas hendaknya ia menaburkan benihnya, yaitu silaturrahim. Demikian, sehingga Imam Al-Bukhari memberi judul untuk kedua hadits itu dengan "Bab Orang Yang Dilapangkan Rizkinya dengan Silaturrahim" [Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, 10/415).Artinya, dengan sebab silaturrahim. ('Umdatul Qari, 22/91)]

Imam Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu dalam Kitab Shahihnya dan beliau memberi judul dengan "Keterangan Tentang Baiknya Kehidupan dan Banyaknya Berkah dalam Rizki Bagi Orang Yang Menyambung Silaturrahim". [Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabul Birri wal Ihsan, Bab Shilaturrahim wa Qath'iha, 2/180]

[3]. Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda.

"Artinya : Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung silaturrahim. Karena sesungguhnya silaturrahim adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap keluarga (kerabat dekat), (sebab) banyak - nya harta dan bertambahnya usia" [2]

Dalam hadits yang mulia ini Nabi Shallallahu 'laihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturrahim itu membuahkan tiga hal, diantaranya adalah ia menjadi sebab banyaknya harta.



[4]. Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda.

"Artinya :Barangsiapa senang untuk dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya serta dihindarkan dari kematian yang buruk maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim" [3]

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang jujur dan terpercaya, mejelaskan tiga manfaat yang terealisir bagi orang yang memiliki dua sifat ; bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim. Dan salah satu dari tiga manfaat itu adalah keluasan rizki.

[5]. Dalil lain adalah riwayat Imam Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhu ia berkata.

"Artinya : Barangsiapa bertaqwa kepada Tuhannya dan menyambung silaturrahim, niscaya dipanjangkan umurnya, dibanyakkan rizkinya dan dicintai oleh keluarganya" [Al-Adabul Mufrad, Bab Man Washala Rahimahu Ahbbahu Allah, no. 59, hal. 37]

[6]. Demikian besarnya pengaruh silaturrahim dalam berkembangnya harta dan benda dan menjauhkan kemiskinan, sampai-sampai ahli maksiat pun, disebabkan oleh silaturrahim, harta mereka bisa berkembang, semakin banyak jumlahnya dan mereka jauh dari kefakiran, karena karunia Allah Ta'ala.

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya keta'atan yang paling disegerakan pahalanya adalah silaturrahim. Bahkan hingga suatu keluarga yang ahli maksiat pun, harta mereka bisa berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling bersilaturrahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling bersilaturrahim kemudian mereka membutuhkan (kekurangan)". [Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabul Birr wal Ihsan, Bab Shilaturrahim wa Qath'iha, no. 440, 2/182-183. Syaikh Syu'aib Al-Arna'uth menshahihkan hadits ini ketika menyebutkan dalil-dalil pada catatan kaki Al-Ihsan. (Lihat, 2/183-184)].

Banyak cara untuk menyambung tali silaturahmi. Misalnya dengan cara saling berziarah (berkunjung), saling memberi hadiah, atau dengan pemberian yang lain. Sambunglah silaturahmi itu dengan berlemah lembut, berkasih sayang, wajah berseri, memuliakan, dan dengan segala hal yang sudah dikenal manusia dalam membangun silaturahmi. Dengan silaturahmi, pahala yang besar akan diproleh dari Allah Azza wa Jalla. Silaturahim menyebabkan seseorang bisa masuk ke dalam surga. Silaturahim juga menyebabkan seorang hamba tidak akan putus hubungan dengan Allah di dunia dan akhirat.

Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ : لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ : تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ : إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

"Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka," maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh dia telah diberi taufik," atau "Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?" Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi". Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga
READ MORE - Beruntung Dunia Akhirat dengan Silaturrahmi

* Keramat dan Keparat Sebuah Plak *

pada hari dikatakan matinya suara rakyat
rupanya suara itu masih bergema di bawah sebatang pokok
melodinya merdu dan syahdu buat jelata
tapi memekik nyaring di telinga keparat (bertelinga satu)

dan pokok itu diangkat sebagai keramat
hidupnya suara rakyat pada hari matinya bangsat
dalam hilai tawa mengejek para keparat
pokok itu, tegak sebagai wakil rakyat
dari dewan undangan negeri jagat

penglipurlara dari pihak rakyat dan keparat
sibuk menulis hikayat bersejarah, sebuah plak tidak bernyawa menjadi tanda
keramat rakyat dan keparatnya keparat

lantas,
pada hari pecahnya sebuah plak yang tidak pernah hidup
yang tiada beda pecah atau bersatu pada hakikat
yang pecah hanyalah sebuah tempayan menyimpan kebodohan
hanyir baunya busuk dan membusukkan seluruh sarwa jagat

penglipurlara dari pihak rakyat dan keparat masih sibuk
menulis hikayatplak itu, dulunya mati, masih mati dan sentiasa mati
READ MORE - * Keramat dan Keparat Sebuah Plak *

Penulisan Lafaz Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim)

Lafaz basmalah atau bismillah adalah diantara kata yang terdapat dalam al-Qur’an, semua surat dalam al-Qur’an (kecuali surat at-Taubah) dimulai dengan lafazh basmalah, banyak sekali keutamaan dari basmalah, sehingga sangat penting bagi kita mengetahui lafazh dari basmalah serta pengucapannya, jangan sampai kita salah dalam mengucapkan lafaz yang mulia tersebut.

Lafazh basmalah dalam tulisan arab gundul di tulis,

بسم الله

Tulisan basmalah secara lengkap,

بسم الله الرحمان الرحيم

Dalam tulisan berharakat,

بِسْمِ اللهِ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ

Pembacaan latinnya adalah bismillah, bismillahirrahmanirrahim, kalau ingin diperinci panjang pendeknya penulisannya adalah bismillaah, bismillaahirrahmaanirrahiim.

Arti kalimat tersebut adalah, “Dengan menyebut nama Allah”, “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.”

Kalimat ini diantaranya bisa ditemui dalam al-Qur’an surat huud ayat ke 41, dan bacaan basmalah secara lengkap dalam surat an-Naml ayat ke 30.

Semoga bermanfaat
READ MORE - Penulisan Lafaz Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim)

MENGAWALI KEGIATAN DENGAN MEMBACA BASMALAH

Apa pun kegiatan yang akan kita mulai, Islam menganjurkan agar kita memulainya dengan membaca basmalah. Yaitu mengucapkan bismillâh. Atau bismillâhirrohmânirrohîm.

Seorang tukang jagal, ketika hendak menyembelih hewan kurban, harus mengucapkan basmalah. Jika tidak, maka daging hewan itu hukumnya seperti bangkai dan haram dimakan.

Setiap hari, ketika hendak mulai makan, kita juga diperintahkan membaca basmalah. Demikian pula kegiatan-kegiatan lain, seperti : membaca Al-Quran, menulis buku, bekerja, dan sebagainya.

Rosululloh saw. bersabda :

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ باَلٍ لاَ يُبْدَأُ بِبِسْمِ اللهِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap urusan penting yang dilakukan tanpa diawali dengan membaca bismillâh, maka tidak akan sampai kepada Alloh.”

Mengawali kegiatan dengan membaca bismillah mengandung dua tujuan :

Pertama, mengharap berkah. Kita berharap keberkahan dari pembacaan nama Allah. Sehingga kegiatan yang dilaksanakan bisa memberikan banyak kebaikan kepada kita.

Kedua, membatasi niat dalam melaksanakan kegiatan itu. Dengan menyebut nama Allah, berarti kita melaksanakan kegiatan itu semata-mata karena untuk mendapat ridho Alloh dan mengharap pertolongan dari Alloh. Kita juga melaksanakan kegiatan itu dengan cara yang dibenarkan oleh Alloh.

Bismillâh artinya dengan nama Alloh. Kalimat ini secara tersirat mengandung kata kerja di belakangnya yang sesuai dengan konteks perbuatan yang kita lakukan. Jika kita hendak menyembelih kambing, kemudian mengucapkan bismillâh, maka telah tersirat kalimat adzbahu ghonam (saya menyembelih kambing ). Kata “saya menyembelih kambing ini” tidak diucapkan, tetapi sudah tersirat dalam ucapan bismillâh yang disertai tindakan menyembelih sesudahnya. Maka, seakan-akan kita mengucapkan, “Dengan nama Alloh saya menyembelih kambing ini.” Demikian seterusnya bila yang kita lakukan tindakan lain. Dengan nama Alloh saya membaca, dengan nama Alloh saya menulis, dengan nama Alloh saya belajar, dan seterusnya.

Jangan sampai melupakan ucapan ini, yang mudah diucapkan dengan lisan, tetapi mengandung makna yang besar dan menjadikan setiap kegiatan kita menjadi diberkahi sekaligus mendapat nilai kebajikan di sisi Alloh.

READ MORE - MENGAWALI KEGIATAN DENGAN MEMBACA BASMALAH