antara.... RAKYAT & PENGUASA
Bagaimanakah sikap seorang muslim selaku rakyat terhadap para penguasa muslim ?? Sebuah prinsip agung yang telah ditanamkan oleh Rasulullah kepada para sahabat, kini telah terkubur dan telah tergambar sebagai prinsip “para pengecut” yang jauh dari jiwa reformis dan pembaharuan.
Namun gambaran waktu telah membuktikan, betapa menjamurnya fitnah dan kekacauan yang muncul di tengah kehidupan kaum muslimin beberapa dekade ini, tatkala mereka meninggalkan prinsip yang diajarkan oleh Rasulullah.
Semua itu disebabkan rakyat menganggap sebab munculnya krisis multidimensi adalah : Kebobrokan Penguasa; padahal sunnatullah menegaskan bahwa “tidaklah lahir penguasa yang bejat kecuali dari rahim rakyat yang bejat pula”.
Bertolak dari keyakinan tersebut mereka mulai menggelar sejuta pentas dan arena untuk mencaci maki penguasa muslim, bahkan melakukan pemberontakan , provokasi masa dan demonstrasi anarkhis; yang ujung-ujungnya adalah darah...darah...dan darah kaum muslimin.
Maka hendaklah kita menggali prinsip yang telah lama terkubur itu dan menjadikannya prinsip dalam menyikapi para penguasa muslim di negeri ini.
Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip Islam yang agung. Agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik yang adil maupun yang dzalim.
WAJIBNYA TAAT KEPADA PENGUASA MUSLIM
Allah telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk taat kepada penguasanya betapapun jelek dan dzalimnya mereka. Tentunya dengan syarat, selama para penguasa tersebut tidak menampakkan kekafiran yang nyata. Allah juga memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kedzaliman mereka dan tetap berjalan di atas sunnah. Karena bagaimanapun juga, pemimpin yang zhalim adalah salah satu bentuk adzab Allah kepada rakyat dan masyarakat yang zhalim dan bergelimang maksiat.
Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah dan memberontak kepada penguasanya maka matinya mati jahiliyyah. Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah seperti keadaan orang-orang jahiliyyah.(Lihat ucapan Al-Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim)
Dari Ibnu Abbas , dia berkata: ”Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari penguasanya, maka bersabarlah! Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati dalam keadaan mati jahiliyyah.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah , dia berkata: “Kami masuk ke rumah Ubadah bin Ash-Shamit ketika beliau dalam keadaan sakit dan kami berkata kepadanya: ‘Sampaikanlah hadits kepada kami –aslahakallah- dengan hadits yang kau dengar dari Rasulullah yang dengannya Allah akan memberikan manfaat bagi kami!’ Maka ia pun berkata:
“Rasulullah memanggil kami kemudian membai’at kami. Dan di antara baiatnya adalah agar kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami semangat ataupun tidak suka, ketika dalam kemudahan ataupun dalam kesusahan, ataupun ketika kami diperlakukan secara tidak adil. Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan dari orang yang berhak –beliau berkata- kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah.” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim )
Kewajiban taat kepada pemerintah ini, sebagaimana dijelaskan Rasulullah, adalah terhadap setiap penguasa, meskipun jahat, dzalim, atau melakukan banyak kejelekan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan pahala dari Allah dengan memberikan hak mereka, yaitu ketaatan walaupun mereka tidak memberikan hak kita.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’udz, dia berkata: “Rasulullah bersabda:
‘Akan muncul setelahku atsarah (orang-orang yang mengutamakan diri mereka sendiri dan tidak memberikan hak kepada orang yang berhak -red) dan perkara-perkara yang kalian ingkari’. Mereka (para shahabat -red) bertanya: ‘Apa yang engkau perintahkan kepada kami wahai Rasulullah?” Beliau berkata:
“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak kalian kepada Allah.”(Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim Dia berkata: “Kami mengatakan: Wahai Rasulullah kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang-orang yang takwa, tetapi orang yang berbuat begini dan begitu…(disebutkan kejelekan-kejelekan), maka Rasulullah bersabda:
‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’ (Hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam As-Sunnah dan lain-lain. Lihat Al-Wardul Maqthuf, hal. 32)
BAGAIMANA MENYIKAPI PENGUASA yang LALIM dan FASIQ
Lalu bagaimana sikap yang benar terhadap para penguasa yang zhalim ? Apakah mereka dibiarkan begitu saja dalam kezhalimannya ? Tentunya tidak, amar ma’ruf nahi munkar harus tetap ditegakkan. Dan semua itu harus mengacu kepada tuntunan syriat. Islam telah memberikan batasan-batasan dalam melakukan nahi munkar.
Rasulullh bersabda : “ Barangsiapa ingin menasehati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangannya dan menyendiri dengannya. Jika ia menerima (nasehat) darinya, maka itulah yang (diharapkan -red), dan jika tidak menerima, maka ia telah melaksanakan kewajibannya.” [Shahih, Zhilalul Jannah no. 1096-1098 oleh al-Albani].
Mungkin akan muncul sebuah ungkapan : “Kondisi di saat Rasulullah memerintahkan untuk tidak memberontak atau selalu taat pada penguasa kaum muslimin tidak bisa disamakan kondisinya dengan zaman kita sekarang ini...kalau dahulu penguasanya bertakwa, sementara sekarang bejat dan lalim”.
Untuk menjawab ungkapan tersebut, Imam ath-Thurtusi berkata : “jika kamu berkata bahwa raja-raja (penguasa) dimasa ini tidak seperti raja-raja masa lalu, maka (dijawab) bahwa rakyat sekarangpun tidak sama denga rakyat dimasa lalu. Dan kamu tidak lebih berhak mencela penguasamu ketika kamu menengok (membandingkan dengan ) penguasa dahulu daripada penguasamu mencela kamu ketika dia menengok rakyat yang hidup di masa lalu. Maka jika penguasamu berbuat zholim terhadap kamu hendaknya kamu bersabar dan dosanya ditanggung(penguasa itu). Masih saja saya mendengar ucapan orang, ‘ Amal-amal kalian adalah para penguasa kalian,’ ‘Sebagaimana kalian, maka seperti itulah penguasa kalian,’ sampai pada akhirnya saya mendapatkan makna semacam itu dalam al-quran (ketika) allah berfirman (artinya) : “ Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang-orang yang zholim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (Al-An’am:129)
Dahulu juga dikatakan: ‘ Apa yang kamu ingkari pada masamu adalah karena dirusak oleh amalmu’.”
Abdul Malik bin marwan juga mengatakan : “ Berbuat adillah kalian wahai rakyat! kalian menginginkan kami untuk berjalan dengan peri hidup Abu Bakar dan Umar, padahal kalian tidak berbuat demikian terhadap kami dan pada diri kalian.” (Sirajul Muluk, hal 100-101, dinukil dari Fiqih Siyasah Syar’iyyah, hal. 165-166)
Al-Hasan Al-Basri mengatakan, “ Ketahuilah -semoga Allah memberimu ‘afiyah- bahwa kezhaliman para raja merupakan adzab dari Allah, dan adzab Allah itu tidak dihadapi dengan pedang akan tetapi dihindari dengan doa, taubat, kembali kepada Allah dan mencabut segala dosa. Sungguh adzab Allah jika dihadapi dengan pedang maka ia lebih bisa memotong.”(Asy-Syaria’ah karya Al-Imam Al-Ajuri, Hal.38, dinukil dari Fiqih Siyasah Syar’iyyah, hal. 166-167).
wallahua’lam
Sumber : Al Hujjah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar