Lama di dengarkannya.....tetapi tidak ada suara khalifah sedikitpun menyahuti kata2 sang istri yang di sertai dengan kemarahan itu. Lalu...sejenak berdiamlah sang suami yang hendak melapor tadi dan kemudian Balik Belakang untuk berniat pulang kerumahnya. Baru beberapa langkah...., pintu Khalifah terbuka dan ternyata sang khalifah yang membuka pintu. Melihat ada orang yang kelihatannya baru saja dari rumahnya tetapi tidak mengetuk pintu.
Akhirnya Khalifah Umar memanggil orang tadi dan menanyakan ttng kedatangannya kegubuk sang Khalifah. Kata orang tsb, saya sungguh malu....tadinya saya datang kemari mau melapor perihal Rumah Tangga saya. Bahwa Istri saya selalu ngajak ribut terus dan marah2 terus. Tetapi sesampainya disini saya mendengar bahwa Istri Khalifah pun ternyata sama juga sedang marah2 dan akhirnya saya urungkan niat saya itu. Tetapi anehnya....kok' sang Khalifah tidak kedengaran suara marahnya..???
Kata Khalifah : "Renungkan olehmu : ketika dalam 1 hari Istrimu marah..., coba hitung berapa kali dia marah. Dan bandingkan dengan perhatian, Cinta kasihnya, pelayananannya sebagai istri kepadamu, menemani tidurmu dll..dll..dll..banyak mana itu semua dengan marahnya...??? Jika masih banyak perhatiannya dll dari pada kemarahannya...kenapa engkau harus marah kepadanya..??? Bisa jadi, istri itu karena kesibukkannya dirumah lalu lelah. Dan dalam kelelahannya itulah...rasa sumpek di hatinya tadi membias ke permukaan.
Dan yang perlu di jadikan bahan renungan adalah...."Bahwa tidak setiap Istri itu, yang marah2 seolah lebih kuasa dari pada suami tidak mempunyai sebab musabab. Hampir sebagian besar sang istri yang demikian itu bersikap seperti itu karena disebabkan sayangnya kepada suami, lalu timbul cemburunya....lalu timbul ingin dimanja, lalu timbul ingin diperhatikan dll...dll...dlll...terkada
Tetapi sedikit sekali suami yang mengerti ttng sebab musabab yang ada pada istri tadi.... karena mengerti itulah yang menyebabkan dia(suami) lebih banyak diamnya, lebih banyak tenangnya, lebih banyak sabarnya...karena ia mengerti bahwa kelakuan istri tsb seperti itu dikarenakan cintanya kepada suami lalu ingin dimanja, diperhatikan, disayangi dan akhirnya membias ke permukaan menjadi sifat "Pencemburuan".
Ya...ROBBII....tidaklah ENGKAU mencipta segala sesuatu itu sia-sia. Begitupun juga ENGKAU ciptakan sepasang Burung yang sedang bercengkrama di dahan Pohon, yang membuat Sang ADAM menjadi iri setelah melihatnya. Maka ENGKAU Nyatakan pada diri ADAM pasangan Hidupnya yaitu HAWA sebagai kebanggaan Bagi ADAM, Dan ENGKAU jadikan ADAM menjadi Pelindung ... sekaligus Teman Berbagi Kasih Sayang untuk HAWA. Maka tatkala KEBANGGAAN,PERLINDUNGAN dan KASIH SAYANG itu menyatu pada Sepasang Kekasih maka akan menjadilah sepasang Kekasih yang saling berbagi Cinta, Pengertian, Kasih Sayang, Kerinduan, Canda, Tawa di dalam Rahmat Allah Swt.
Karena sesungguhnya dalam diri sepasang Kekasih itu tersimpan "MUTIARA" yang sangat Indah Menawan dan tiada nilai harganya. Maka bekerjasamalah memelihara "MUTIARA" itu dan rawatlah baik-baik. Jadikan kebanggaan dalam Hidup dan tampilkan bahwa "MUTIARA" itu adalah PILAR KEKUATAN CINTA KAMI.karena sesungguhnya "MUTIARA" itu adalah "KEBENARAN ALLAH yaitu NURUN ALA NUURIN. Apabila sang Kekasih itu melihat dan memandang serta memperhatikan "MUTIARA" itu pada dirinya dan ada juga pada pasangan Hidupnya begitupun sebaliknya. Kemudian ia mencintai, mengasihi, menyayangi serta menghormati kekasihnya satu dengan yang lain, maka sama halnya ia telah Mencintai, mengasihi, menyayangi "MUTIARA" tsb. Dan siapa2 yang Mencintai, ... Mengasihi, menyayangi "MUTIARA" itu, maka sama halnya ia telah mencintai, mengasihi, menyayangi Tuhannya yaitu Allah Swt. Siapa yang ingkar pada "MUTIARA" itu maka ia telah ingkar kepada Allah Swt. Maka bersyukurlah....Allah telah menanamkan "MUTIARA" itu ke dalam dada para Kekasih lalu dilengkapi dengan Selendang CINTA KASIH SAYANG sebagai jembatan/Washilah untuk mencapai MAHABBATULLAH (Kecintaan Allah Swt).
Semoga.... Allah memberkati kita semua. Aaaamiiin.........Yaaa....
Oleh: Pengembara Jiwa
Terkadang kita sebagai kaum istri selalu beranggapan bahwa tugas kita amatlah berat, mengurus rumah tangga, mengurus suami dan anak. kita lupa bahwasannya sang suami menanggung tugas yg sama beratnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar