Berbaik sangka atau berprasangka baik. Yaitu kepada Allah Wa Rasuulihi SAW, kepada orang lain dan umumnya kepada semua makhluk. Terhadap Allah Wa Rasuulihi SAW. Seharusnya bukan hanya husnudhon melainkan harus husnul-yaqin.
Husnudhon atau husnul-yaqin itu menjadi kuncinya berbagai gudang hikmah, merupakan tangkainya bermacam-macam faedah yang menjadi sumbernya berbagai macam manfaat dan “suu-udhon” maslahah. Sebaliknya,berprasangka buruk atau menjadi sumber dari berbagai macam-macam fitnah, menjadi lubang jeglonganya(jawa) bermacam-macam mafsadah dan menjadi markasnya bermacam-macam pertengkaran dan permusuhan, serta merupakan gempa bumi pengguncang kekompakan dan persatuan.
Maka dari itu kita harus selalu husnudhon kepada siapa saja sekalipun bagaimana keadaanya. Hanya terhadap musuh kita diperbolehkan suu-udhon dan curiga. Kalau perlu harus. Terutama kepada nafsunya sendiri. Bukankah nafsu adalah musuh setiap insan. Bersabda Rasuulullah SAW:
Sebesar-besarnya musuhmu adalah nafsumu yang ada pada dirimu”.(Riwayat Baihaqi dari Ibnu Abbas)
Jadi terhadap nafsu kita masing-masing, kita harus curiga. Sekalipun saat kita menjalankan taat. Malah justru didalam kita taat itulah kita harus lebih waspada terhadap gerak-gerik nafsu yang justru pada saat seperti itu menggunakan seribu satu macam cara untuk merusakkan amal-amal ibadah dengan menaburkan racun ‘ujub, riya’ takabbur dan sebagainya dengan cara yang halus sekali. Orang yang belum sadar BILLAH, pasti terkena tipu daya nafsu dan meminum racun ‘ujub, riya’ dan sebagainya itu tetapi tidak merasa bahwa itu racun yang mematikan.
Ada suatu hikayah Syekh Juned Al Baghadadi rodliyallohu’anhu, seorang Waliyulloh yang terkenal pada suatu hari melihat seorang laki-laki yang masih muda mengemis dimuka suatu Masjid. Syekh Juned lalu timbul dalam hati angan-angan “Sayang orang itu, masih muda dan masih kuat badanya kok pekerjaanya mengemis, seandainya ia mau bekerja tentu ia menjadi terhormat”. Pada malam harinya Syekh Juned terasa berat dalam menjalankan aurod lailiyah yang sudah menjadi kebiasaanya. Akhirnya tertidur, dan didalam tidurnya itu ia bermimpi didatangi orang yang membawa bungkusan dan menyerahkan bungkusan tersebut kepada Syekh Juned sambil berkata: “makanlah daging saudaramu yang kamu berprasangka dalam hatimu siang tadi”. Setelah dibuka ternyata isi bungkusan tersebut adalah gumpalan daging manusia. Syekh terkejut dan bangun. Pagi harinya beliau mencari pengemis yang dilihatnya kemarin dimuka masjid tadi. Setelah bertemu minta maaf. Begitulah akibatnya suu-udhon atau berprasangka buruk dalam hati.
Maka dari itu kita harus membiasakan hati kita untuk selalu berhusnudhon kepada siapapun juga. Misalnya terhadap orang yang belum dikenal, husnudhon bahwa orang itu adalah kalangan orang baik-baik, orang saleh dan termasuk Waliyulloh dan minal ‘Arifin dan sebagainya. Dengan cara demikian insya kita selamat dari bahaya suu-udhon. Insya Allah jika LILLAH BILLAH kita memancar dengan baik, dapat selalu husnudhon kepada siapa saja, dan husnul yakin kepada Allah Wa Rasuulihi SAW di sabdakan di dalam Hadits Qudsi:
”AKU, menurut prasangka hamba-KU jika berprasangka baik menjadi baik, dan jika buruk menjadi buruk”(Riwayat Abu Na’im, Thobroni dan Ibnu Asakir dari Abbas)
Suu-udhon itu tegas-tegas dilarang Allah:
”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagaian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.(49 Al-Hujarat 12)
Kebenaran ayat tersebut dialami oleh Syekh Juned seperti diatas. Orang yang suu-udhon otomatis lupa Allah, tidak sadar atas qudrat dan irodat Allah. Padahal:
“Katakanlah, segala-galanya itu dari Allah”.(4-An nisaa 78)
”Segala sesuatu ada hikmahnya dan ada fitnahnya”
Kita harus mengambil hikmahnya. Maka harus selalu husnudhon. Jika kedahuluan suu-udh-dhon kita tidak bisa mengambil hikmahnya. Yang muncul adalah fitnah dan mafsadahnya. Hikmahnya tertutup tidak nampak kepada kita akibat suu-udh-dhon. Yang dimaksud hikmah yaitu mana-mana, yang mendatangkan kebaikan dan menjadi sebabnya makin dekat kepada Allah Wa Rasuulihi SAW.
Hubungan husnudh-dhon, Imam Syafi’i Rodliyallohu ‘anhu mengatakan:
(Barangsiapa ingin memperoleh Husnul Khotimah maka berhusnudh-dhonlah kepada manusia).
Perlu diperhatikan, bahwa disamping husnudh-dhon harus waspada dan bijaksana. Dan disamping husnudh-dhon (kepada nafsunya sendiri terutama), juga harus bijaksana dan hati-hati!. Jadi dua bidang harus diisi sekaligus!. LILLAH-BILLAH, LIRROSUL-BIRROSUL, LILGHOUTS-BILGHOUTS dan bidang kewaspadaan juga harus dilakukan lahir dan batin. Suu-udh-dhon kepada nafsu harus terus-menerus ditingkatkan,dan husnul yakin kepada Allah SWT harus senantiasa kita jadikan pandangan optimis!. Pokoknya kita harus mengisi segala bidang-bidang yang harus kita isi!. Jangan sampai tertipu oleh nafsu. Lebih-lebih jangan sampai menganggap enteng terhadap kewajiban-kewajiban terutama yang berhubungan kepada Allah Wa Rasuulihi SAW sekalipun kelihatanya kecil. Dan jangan sampai menganggap remeh terhadap munkarot dan maksiat sekalipun betapa sepelenya. Pokoknya harus Yukti Kuladzi Haqqin Haqqoh dan Taqdimul aham fal aham Tsummal Anfa’ Fal Anfa’.
”Segala puji bagi Allah, kepangkuan-MU dan Keluarga (yaa Rasuululloh), sholawat salam, senantiasa tercurah, sebab Engkaulah segala kebaikan dan kenikmatan.
Duhai Pemimpin kami, duhai pemimpin kami, Engkau adalah Rasul Allah dengan Haq, bantulah kami, bimbing dan didiklah diri kami, para ahli dan anak-anak kami, para pengamal Wahidiyah, dan segenap kaum muslimin dan muslimat.
Engkau adalah kekasih Allah Roobul ‘Alamin, Duhai Pembawa rahmat bagi seluruh ‘Alamin, kebaikan kesempurnaan, keselamatan dan kebahagiaan adalah datang dari sebab Engkau”. wallahu ‘alam.
Husnudhon atau husnul-yaqin itu menjadi kuncinya berbagai gudang hikmah, merupakan tangkainya bermacam-macam faedah yang menjadi sumbernya berbagai macam manfaat dan “suu-udhon” maslahah. Sebaliknya,berprasangka buruk atau menjadi sumber dari berbagai macam-macam fitnah, menjadi lubang jeglonganya(jawa) bermacam-macam mafsadah dan menjadi markasnya bermacam-macam pertengkaran dan permusuhan, serta merupakan gempa bumi pengguncang kekompakan dan persatuan.
Maka dari itu kita harus selalu husnudhon kepada siapa saja sekalipun bagaimana keadaanya. Hanya terhadap musuh kita diperbolehkan suu-udhon dan curiga. Kalau perlu harus. Terutama kepada nafsunya sendiri. Bukankah nafsu adalah musuh setiap insan. Bersabda Rasuulullah SAW:
Sebesar-besarnya musuhmu adalah nafsumu yang ada pada dirimu”.(Riwayat Baihaqi dari Ibnu Abbas)
Jadi terhadap nafsu kita masing-masing, kita harus curiga. Sekalipun saat kita menjalankan taat. Malah justru didalam kita taat itulah kita harus lebih waspada terhadap gerak-gerik nafsu yang justru pada saat seperti itu menggunakan seribu satu macam cara untuk merusakkan amal-amal ibadah dengan menaburkan racun ‘ujub, riya’ takabbur dan sebagainya dengan cara yang halus sekali. Orang yang belum sadar BILLAH, pasti terkena tipu daya nafsu dan meminum racun ‘ujub, riya’ dan sebagainya itu tetapi tidak merasa bahwa itu racun yang mematikan.
Ada suatu hikayah Syekh Juned Al Baghadadi rodliyallohu’anhu, seorang Waliyulloh yang terkenal pada suatu hari melihat seorang laki-laki yang masih muda mengemis dimuka suatu Masjid. Syekh Juned lalu timbul dalam hati angan-angan “Sayang orang itu, masih muda dan masih kuat badanya kok pekerjaanya mengemis, seandainya ia mau bekerja tentu ia menjadi terhormat”. Pada malam harinya Syekh Juned terasa berat dalam menjalankan aurod lailiyah yang sudah menjadi kebiasaanya. Akhirnya tertidur, dan didalam tidurnya itu ia bermimpi didatangi orang yang membawa bungkusan dan menyerahkan bungkusan tersebut kepada Syekh Juned sambil berkata: “makanlah daging saudaramu yang kamu berprasangka dalam hatimu siang tadi”. Setelah dibuka ternyata isi bungkusan tersebut adalah gumpalan daging manusia. Syekh terkejut dan bangun. Pagi harinya beliau mencari pengemis yang dilihatnya kemarin dimuka masjid tadi. Setelah bertemu minta maaf. Begitulah akibatnya suu-udhon atau berprasangka buruk dalam hati.
Maka dari itu kita harus membiasakan hati kita untuk selalu berhusnudhon kepada siapapun juga. Misalnya terhadap orang yang belum dikenal, husnudhon bahwa orang itu adalah kalangan orang baik-baik, orang saleh dan termasuk Waliyulloh dan minal ‘Arifin dan sebagainya. Dengan cara demikian insya kita selamat dari bahaya suu-udhon. Insya Allah jika LILLAH BILLAH kita memancar dengan baik, dapat selalu husnudhon kepada siapa saja, dan husnul yakin kepada Allah Wa Rasuulihi SAW di sabdakan di dalam Hadits Qudsi:
”AKU, menurut prasangka hamba-KU jika berprasangka baik menjadi baik, dan jika buruk menjadi buruk”(Riwayat Abu Na’im, Thobroni dan Ibnu Asakir dari Abbas)
Suu-udhon itu tegas-tegas dilarang Allah:
”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagaian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.(49 Al-Hujarat 12)
Kebenaran ayat tersebut dialami oleh Syekh Juned seperti diatas. Orang yang suu-udhon otomatis lupa Allah, tidak sadar atas qudrat dan irodat Allah. Padahal:
“Katakanlah, segala-galanya itu dari Allah”.(4-An nisaa 78)
”Segala sesuatu ada hikmahnya dan ada fitnahnya”
Kita harus mengambil hikmahnya. Maka harus selalu husnudhon. Jika kedahuluan suu-udh-dhon kita tidak bisa mengambil hikmahnya. Yang muncul adalah fitnah dan mafsadahnya. Hikmahnya tertutup tidak nampak kepada kita akibat suu-udh-dhon. Yang dimaksud hikmah yaitu mana-mana, yang mendatangkan kebaikan dan menjadi sebabnya makin dekat kepada Allah Wa Rasuulihi SAW.
Hubungan husnudh-dhon, Imam Syafi’i Rodliyallohu ‘anhu mengatakan:
(Barangsiapa ingin memperoleh Husnul Khotimah maka berhusnudh-dhonlah kepada manusia).
Perlu diperhatikan, bahwa disamping husnudh-dhon harus waspada dan bijaksana. Dan disamping husnudh-dhon (kepada nafsunya sendiri terutama), juga harus bijaksana dan hati-hati!. Jadi dua bidang harus diisi sekaligus!. LILLAH-BILLAH, LIRROSUL-BIRROSUL, LILGHOUTS-BILGHOUTS dan bidang kewaspadaan juga harus dilakukan lahir dan batin. Suu-udh-dhon kepada nafsu harus terus-menerus ditingkatkan,dan husnul yakin kepada Allah SWT harus senantiasa kita jadikan pandangan optimis!. Pokoknya kita harus mengisi segala bidang-bidang yang harus kita isi!. Jangan sampai tertipu oleh nafsu. Lebih-lebih jangan sampai menganggap enteng terhadap kewajiban-kewajiban terutama yang berhubungan kepada Allah Wa Rasuulihi SAW sekalipun kelihatanya kecil. Dan jangan sampai menganggap remeh terhadap munkarot dan maksiat sekalipun betapa sepelenya. Pokoknya harus Yukti Kuladzi Haqqin Haqqoh dan Taqdimul aham fal aham Tsummal Anfa’ Fal Anfa’.
”Segala puji bagi Allah, kepangkuan-MU dan Keluarga (yaa Rasuululloh), sholawat salam, senantiasa tercurah, sebab Engkaulah segala kebaikan dan kenikmatan.
Duhai Pemimpin kami, duhai pemimpin kami, Engkau adalah Rasul Allah dengan Haq, bantulah kami, bimbing dan didiklah diri kami, para ahli dan anak-anak kami, para pengamal Wahidiyah, dan segenap kaum muslimin dan muslimat.
Engkau adalah kekasih Allah Roobul ‘Alamin, Duhai Pembawa rahmat bagi seluruh ‘Alamin, kebaikan kesempurnaan, keselamatan dan kebahagiaan adalah datang dari sebab Engkau”. wallahu ‘alam.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar