Rabu, 28 April 2010

JATAH MAKANAN UNTUK "SANG PEMIMPIN"

dinukil dan diedit dari terjemahan:
BAINA YADAI UMAR karangan Khalid Muhammad Khalid)

oleh: KH. BACHTIAR AHMAD
========================

Ketika terjadi masa paceklik ditahun-tahun pemerintahannya di Madinah, “Amirul Mukminin” Umar bin Khattab r.a menyuruh para sahabat yang membantunya untuk menyembelih unta, yang kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada seluruh penduduk Madinah.

Pada waktu makan siang “sang khalifah” Umar. mendapati daging punuk yang lembut dan sepotong hati unta terhidang di-meja makannya. Lalu Umar bertanya kepada keluarganya;

“Dari mana makanan ini ?.”

Salah seorang anaknya menjelaskan, bahwa daging punuk dan hati unta itu berasal dari unta yang disembelih sebagaimana yang ia perintahkan. Dan para sahabat sengaja menyisihkan sedikit bagian itu untuk makan siang “sang pemimpin”

Demi mendengar penjelasan itu Umar ibnul Khattab lalu mengemasi meja dengan tangannya sendiri dan kemudian berkata kepada salah seorang pembantu yang ada di dekatnya:

“Hai Aslam berikan ini kepada mereka yang lebih berhak; yang belum mendapat bagian terbaik; karena untuk merekalah unta itu disembelih. Dan tolong bawakan kepadaku roti dan minyak wijen untuk makan siangku.”

Setelah itu Umar lalu bergumam:

“Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa para sahabatku; tujuan mereka memang baik; tapi aku tak mau menanggung malu di hadapan-Mu lantaran aku memakan makanan yang enak-enak; sementara orang lain; yang oleh karena merekalah untua-unta itu disembelih hanya memakan tulang dan bagian kerasnya.”

Dan seperti biasanya Umar lalu menangis sesunggukan; karena sangat malunya kepada Allah SWT yang telah memberi kepercayaan kepadanya sebagai “amirul mukminin”

*****

Andaisaja “keteladanan” yang ditunjukkan oleh amirul mukminin “Umar ibnul Khattab r.a ini dilakoni oleh “sedikit” saja pemimpin di negeri ini; maka “insya Allah” akan berkurang orang-orang miskin yang kelaparan di negeri yang penduduknya mayoritas “muslim” ini.

Wallahua’lam

Bagansiapiapi; 11 Jumadil Awal 1431 H / 25 April 2010
KH. BACHTIAR AHMAD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar