Rabu, 07 April 2010

Keniscayaan suatu Ujian/cobaan

Sungguh, Kami pasti akan terus-menerus menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar” (QS 2:155).

Sungguh, Kami pasti akan terus-menerus menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar” (QS. al-Baqarah 2:155).

Sungguh, Kami bersumpah bahwa Kami pasti akan terus menerus menguji kamu. Demikian Allah bersumpah mengisyaratkan bahwa hakikat hidup di dunia, antara lain ditandai oleh keniscayaan adanya cobaan yang beraneka ragam.

Ujian atau cobaan yang dihadapi itu pada hakikatnya sedikit, sehingga betapapun besarnya, ia sedikit jika dibandingkan dengan imbalan dan ganjaran yang akan diterima. Cobaan itu sedikit, karena betapapun besarnya cobaan, ia dapat terjadi dalam bentuk yang lebih besar daripada yang telah terjadi. Bukankah ketika mengalami setiap bencana, ucapan yang sering terdengar adalah “Untung hanya begitu...” Ia sedikit, karena cobaan dan ujian yang besar adalah kegagalan menghadapi cobaan khususnya dalam kehidupan beragama.

Ujian yang diberikan Allah sedikit. Kadarnya sedikit bila dibandingkan dengan potensi yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia. Ia hanya sedikit, sehingga setiap yang diuji akan mampu memikulnya jika ia menggunakan potensi-potensi yang dianugerahkan Allah itu. Ini tidak ubahnya dengan ujian pada lembaga pendidikan. Soal-soal ujian disesuaikan dengan tingkat pendidikan masing-masing. Semakin tinggi jenjang pendidikan semakin berat soal ujian. Setiap yang diuji akan lulus jika ia mempersiapkan diri dengan baik, serta mengikuti tuntunan yang diajarkan.

Patut dicamkan bahwa ayat sebelum ayat di atas mengajarkan shalat dan sabar. Jika demikian, yang diajarkan itu harus diamalkan sebelum datangnya ujian Allah ini, demikian pula ketika ujian berlangsung. Itu sebabnya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui sahabat Huzaifah Ibnu Alyamân, Rasul saw. bila dihadapkan pada satu kesulitan/ujian, beliau bersabar dan melaksanakan shalat. Karena itu pula ayat di atas ditutup dengan perintah: “Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Apakah bentuk ujian itu? Di sini dijelaskan bahwa ia antara lain adalah sedikit dari rasa takut, yakni keresahan hati menyangkut sesuatu yang buruk, atau hal-hal yang tidak menyenangkan yang diduga akan terjadi. Sedikit rasa lapar, yakni keinginan meluap untuk makan karena perut kosong, tetapi tidak menemukan makanan yang dibutuhkan, serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.

Informasi Allah tentang “soal ujian” ini adalah nikmat besar tersendiri, karena dengan mengetahuinya kita dapat mempersiapkan diri menghadapi aneka ujian itu. Ujian diperlukan untuk kenaikan tingkat. Ujian itu sendiri baik. Yang buruk adalah kegagalan menghadapinya.

Memang Allah tidak menjelaskan kapan dan dalam bentuk apa ketakutan itu – di sana letak ujiannya – seperti halnya siswa atau mahasiswa ketika diberi tahu mata pelajaran atau kuliah yang akan diujikan.

Takut menghadapi ujian adalah pintu gerbang kegagalan, demikian juga ujian-ujian Ilahi. Menghadapi sesuatu yang ditakuti adalah membentengi diri dari gangguannya. Biarkan dia datang kapan saja, tetapi ketika itu Anda telah siap menjawab atau menghadapinya.

Rasa lapar pun demikian. Jangan khawatir makanan tak mencukupi jika Anda sedang diuji dalam bentuk rasa lapar, karena Allah telah memberi potensi. Kalau perut kosong dari makanan, masih ada yang lain dalam tubuh manusia yang dapat melanjutkan hidupnya, ia memiliki lemak, daging, bahkan kalau ini pun telah habis, tubuhnya akan mengambil dari tulangnya, bahkan dia akan tetap dapat hidup walau jantungnya tidak berdebar lagi selama otaknya masih berfungsi. Bukankah mati dalam pandangan para dokter bukan dengan terhentinya denyut jantung, tetapi dengan terhentinya fungsi otak.

Lapar, bukan buruk. Dengan rasa lapar semua makanan menjadi lezat dimakan. Dalam keadaan letih, dengan kasur bahkan tanpa kasur pun tidur menjadi nyenyak. Ini tentu, jika manusia mau menyadarinya. Allah menyampaikan ujian ini agar manusia siap menghadapinya, sehingga ia membiasakan diri, tidak makan kecuali jika ia lapar dan bila makan tidak kenyang.

Manusia harus berjuang, karena hidup adalah pergulatan antara kebenaran dan kebatilan, pertarungan antara kebaikan dan keburukan. Manusia dalam hidupnya pasti menghadapi setan dan pengikut-pengikutnya. Allah memerintahkan untuk berjuang menghadapi mereka. Tentu saja dalam pergulatan dan pertarungan pasti ada korban, baik dari pihak yang benar atau yang salah. Aneka macam korban itu, bisa harta, jiwa dan buah-buahan, baik buah-buahan dalam arti sebenarnya maupun buah-buahan dalam arti buah dari apa yang dicita-citakan. Tetapi korban itu sedikit, bahkan itulah yang menjadi bahan bakar memperlancar jalannya kehidupan, serta mempercepat pencapaian tujuan. Jika demikian, jangan menggerutu menghadapi ujian, bersabarlah dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar.

Demikian, wa Allâh a‘lam.

Sumber :
Disunting dari buku "Menjemput Maut" karya M. Quraish Shihab, Jakarta: Lentera Hati, 2007

Semoga Bermanfaat

Jakarta, 4 April 2010

Wassalamualaikum wr wb
Imam Puji Hartono (Gus Im)


.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar