Kata yang singkat namun ketahuilah bahwasanya tanpanya dunia akan sepi dan hampa. Ibnul Qayyim mengatakan: “…, maka setiap perbuatan dan gerakan di alam semesta ini adalah berasal dari cinta dan keinginan. Kedua hal itulah yang mengawali segala pekerjaan dan gerakan, sebagaimana benci dan ketidaksukaan yang mengawali untuk meninggalkan dan menahan diri dari sesuatu.”
Tak heran jika ada seseorang yang dengan relanya mengorbankan apa saja demi sesuatu yang dicintainya. Ibnul Qayyim berkata: “Cinta menggerakkan seorang pecinta untuk mencari yang dicintainya, dan kecintaannya akan sempurna manakala ia telah mendapatkannya . Maka cinta itulah yang menggerakkan pecinta Arrahman, pecinta Al-Quran, pecinta ilmu dan iman, pecinta materi dan uang, pecinta berhala dan salib, pecinta wanita dan anak-anak, pecinta tanah dan air dan cinta pula yang menggerakkan pecinta saudara-saudaranya.”
Orang yang mencinta akan bergetar hatinya saat yang dicintainya disebutkan namanya. Tentang fenomena para pecinta, Ibnul Qayyim menyebutkan: ”Karena itu engkau dapati pecinta wanita dan anak-anak, pecinta nyanyian dan qur’an syetan, mereka tidak bergerak hatinya ketika mendengarkan ilmu dan kesaksian iman, juga tidak ketika dibacakan Al-Qur’an. Tetapi saat disebutkan yang dicintainya serta-merta bangkitlah jiwanya, tergeraklah lahir batinnya, karena rindu dan menikmati yang dicintainya, meski sekedar disebut namanya.”
Sungguh benar sekali apa yang telah dikatakan oleh Ibnul Qayyim diatas. Dan tak ada yang bisa memahami apa yang telah beliau katakan kecuali orang yang pernah mencintai sesuatu. Jika ada seseorang mengatakan kepada orang yang ada dihadapannya: ”Saya mencintaimu !” apakah lantas orang tersebut percaya begitu saja tanpa bukti yang nyata?
Ibnul Qayyim menyebutkan ada 20 tanda dan bukti cinta:
• Pertama, menghunjamkan pandangan mata, pandangan mata seorang pecinta itu hanya tertuju pada orang yang dicintai.
• Kedua, malu-malu jika orang yang dicintai memandangnya, maka dari itu didapati seorang pecinta hanya bisa memandang kebawah, kepermukaan tanah, disebabkan rasa sungkannya terhadap orang yang dicintainya.
• Ketiga, banyak mengingat orang yang dicintai, membicarakan dan menyebut namanya.
• Keempat, tunduk kepada perintah orang yang dicintai dan mendahulukannya daripada kepentingan diri sendiri.
• Kelima, bersabar menghadapi gangguan orang yang dicintai, yaitu bersabar dalam menghadapi kedurhakaan dan bersabar dalam melaksanakan keputusan orang yang dicintai.
• Keenam, memperhatikan perkataan orang yang dicintai dan mendengarkannya.
• Ketujuh, mencintai tempat dan rumah sang kekasih
• Kedelapan, segera menghampiri yang dicintai, kesibukan yang lain ditinggalkan dan menyukai apapun jalan yang bisa mendekatkan dirinya dengan orang yang dicintai.
• Kesembilan, mencintai apapun yang dicintai sang kekasih
• Kesepuluh, jalan yang terasa pendek -padahal panjang- saat mengunjungi sang kekasih
• Kesebelas, salah tingkah jika sedang mengunjungi orang yang dicintai atau sedang dikunjungi orang yang dicintai
• Keduabelas, kaget dan gemetar tatkala berhadapan dengan orang yang dicintai atau tatkala mendengar namanya disebut.
• Ketigabelas, cemburu kepada orang yang dicintai, cemburunya akan bangkit jika kekasihnya dijahati dan dirampas haknya.
• Keempatbelas, berkorban apa saja untuk mendapatkan keridhaan orang yang dicintai
• Kelimabelas, menyenangi apa pun yang membuat senang orang yang dicintai
• Keenambelas, suka menyendiri.
• Ketujuhbelas, tunduk dan patuh kepada orang yang dicintai
• Kedelapanbelas, helaan napas yang panjang dan kerap.
• Kesembilanbelas, menghindari hal-hal yang merenggangkan hubungan dengan yang dicintai dan membuatnya marah
• Keduapuluh, adanya kecocokan antara orang yang mencintai dan yang dicintai
Jika tanda dan bukti cinta itu telah ada maka yang perlu dipertanyakan ditujukan untuk siapakah perasaan cinta itu ? Ibnul Qayyim menjelaskan setelah menjelaskan fenomena orang –orang yang mencinta : ”Semua kecintaan tersebut adalah batil kecuali kecintaan kepada Allah dan konsekwensi dari kecintaan padaNya, yaitu cinta kepada rasul, kitab, agama dan para kekasihNya. Berbagai kecintaan inilah yang abadi dan abadi pula buah serta kenikmatannya sesuai dengan abadinya ketergantungan orang tersebut padaNya. Dan keutamaan cinta ini atas kecintaan kepada yang lain sama dengan keutamaan orang yang bergantung padaNya atas orang yang bergantung pada yang lain. Jika hubungan para pecinta terputus , juga terputus pula sebab-sebab cintanya, maka cinta kepadaNya akan tetap langgeng abadi.
Ada sebuah syair tulisan seseorang:
Sesuatu yang terlupa, biasanya tak berarti apa-apa, Sesuatu yang ingin dilupa, biasanya sesuatu yang pernah dicinta, Namun yang dicinta tak mau memperdulikannya, Sakit memang sakit hatinya, Dan itulah penyakit yang Lebih berat dari biasanya, ingin dia sembuhkan penyakitnya, Namun citra kekasih selalu membayanginya, Memang sembuhnya sakit kepala, Ternyata lebih mudah daripada sembuhnya orang yang dimabuk cinta
kemudian dia melanjutkan :
Orang yang dimabuk samara, bagaikan orang yang terkena panah kaki dan tangannya, dengan kedalaman yang sungguh mengena, Jika dicabut kan terasa benar sakitnya, Jika dibiarkan kan terhambat gerak dan langkahnya, Sungguh sakit jika tak dihiraukan oleh yang dicinta, Bagaimana jika tak dihiraukan oleh Sang Pencipta, Tatkala semua makhluk membutuhkanNya, Tak ada cinta yang benar-benar membuat sehat hati manusia, Kecuali cinta karena Allah dan RasulNYa, Setiap orang menginginkannya, Namun sayang enggan meniti jalan-Nya .
Jika sesorang mengatakan: ”Saya mencintai Allah dan Rasulnya !” namun anehnya dia malah melakukan perbuatan-perbuatan yang membuat marah Allah maka patut dipertanyakan padanya bagaimana kesungguhan cintanya kepadaNya.
Allah berfirman yang artinya: “Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikuti aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (Ali Imron :31)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar