Jumat, 21 Mei 2010

Khabar Ahad ; Imam al-Muhaddits al-Bukhari, Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaniy & Imam al-Hujjah an-Nawawi

Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya menuliskan sebuah bab yang berjudul,

باب ما جاء في إجازة خبر الواحد الصدوق في الأذان والصلاة والصوم والفرائض والأحكام

“Bab tentang apa-apa yang datang tentang dibolehkannya bersandar dengan khabar seseorang yang jujur dalam masalah Adzan, Shalat, Puasa dan kewajiban-kewajiban serta Hukum.”

Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalaniy didalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari (20/292) mengomentari bab yang dituturkan oleh Imam Bukhari, sebagai berikut ;

وقوله " والفرائض " بعد قوله " في الأذان والصلاة والصوم " من عطف العام على الخاص ، وأفرد الثلاثة بالذكر للاهتمام بها ، قال الكرماني ليعلم إنما هو في العمليات لا في الاعتقاديات

“Perkataannya (والفرائض /kewajiban-kewajiban) setelah menyebutkan tentang Adzan, Shalat dan Puasa, merupakan menyambung kata umum dengan kata khusus. Dan disebutkan dengan 3 kewajiban (adzan, shalat, puasa) itu saja hanya sebagai bentuk perhatian atasnya. Al-Imam Al-Kirmani berkata, “Hal itu agar diketahui bahwa ia (khabar seorang yang jujur) hanya berlaku dalam masalah amal-amal saja bukan dalam masalah i’tiqadiyyah”

Al-Imam Al-Hafidz Al-Hujjah Asy-Syaikhul Islam An-Nawawi menuturkan,

وأما خبر الواحد فهو ما لم يوجد فيه شروط المتواتر سواء أكان الراوي له واحد أو أكثر، واختلف في حكمه ، فالذي عليه جماهير المسلمين من الصحابة والتابعين فمن بعدهم من المحدثين والفقهاء وأصحاب الأصول أن خبر الواحد الثقة حجة من حجج الشرع يلزم العمل بها ويفيد الظن ولا يفيد العلم ، وان وجوب العمل به عرفناه بالشرع لا بالعقل ، وذهبت القدرية ـ المعتزلة ـ والرافضة وبعض أهل الظاهر إلى انه لا يجب العمل به . ثم منهم من يقول : منع من العمل به دليل العقل ، ومنهم من يقول : منع من العمل به دليل الشرع

“Ada pun khabar al-wahid/hadits ahad yaitu khabar/hadits yang tidak memenuhi syarat mutawatir, baik satu perawi atau lebih. Ulama berselisih pendapat tentang hukumnya, namun Jumhur Ulama kaum Muslimin baik kalangan Shahabat, Tabi’in, dan ulama-ulama setelahnya dari kalangan Muhadditsin, Fuqaha’, Ulama-ulama Ushul (aqidah) berpendapat bahwa khabar al-wahid yang perawinya tsiqah merupakan hujjah syara’ yang mengikut untuk diamalkan, yang hanya menghasilkan dhan bukan ilmu. Wajibnya amal dengannya kami mengetahuinya berdasarkan syara’ bukan akal,….

Kemudian beliau juga menuturkan,

وذهب بعض المحدثين إلى أن الآحاد التي في صحيح البخاري أو صحيح مسلم تفيد العلم دون غيرها من الآحاد. وقد قدمنا هذا القول وإبطاله في الفصول ،............... وأما من قال يوجب العلم فهو مكابر للحس ، وكيف يحصل العلم واحتمال الغلط والوهم والكذب وغير ذلك متطرق إليه
“Pendapat sebagian Muhadditsin bahwa hadits ahad yang ada dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim memberikan kepastian ilmu (informasi) bukan hadits ahad selainnya. Dan kami telah lam menjelaskan kebathilan qaul (pendapat) ini dalam banyak fashal-fashal…,…. Adapun orang yang berpendapat bahwa hadits ahad mewajibkan ilmu maka itu telah menentang kenyataan. Dan bagaimana bisa menghasilkan ilmu sementara kemungkinan adanya penyimpangan, kealpaan, pemalsuan dan yang lainnya masih memiliki perluang. Wallahu ‘alam”

http://khabar-ahad.blogspot.com/2010/05/al-muhaddits-imam-bukhari-imam-al.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar