(Aku berlindung kepada ALLAH dari hasutan Syaitan yang terkutuk. Dengan nama ALLAH, Yang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi)
Siapa yang tidak kenal nabi Musa? Seorang yang dikenang baik oleh umat Muslim, Yahudi bahkan Nasrani.
Dalam kisah dikatakan, bahwa Nabi Musa adalah seorang yang pemberani. Beliau datang berdua dengan saudaranya Nabi Harun, menemui raja Fir’aun untuk membawa amanah Allah.
Alkisah, di akhir cerita penyelamatan, Nabi musa membawa bani Israil pergi dari mesir ke tanah suci Palestine dengan menempuh perjalanan selama 40 tahun.
Namun bukan cerita itu yang ingin disampaikan disini. Melainkan kesabarannya.
Nabi Musa pernah merasa sebagai seorang yang Sabar. Namun Allah menunjukkan kepada nabi Musa, bahwa kesabaran yang dimilikinya belumlah seberapa.
Allah memperkenalkan nabi Musa kepada seseorang (Nabi Khidhr). Agar nabi musa dapat belajar darinya.
Begini yang diceritakan Allah melalui Rasulullah dan dituliskan didalam Al-Quran yang Mulia..:
“Lalu mereka (Nabi Musa dan muridnya) bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? "
Dia menjawab:" Sesungguhnya kamu sekali-kali TIDAK AKAN SANGGUP SABAR bersamaku.
DAN BAGAIMANA KAMU DAPAT SABAR atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? "
Musa berkata:" Insya Allah KAMU AKAN MENDAPATIKU SEBAGAI SEORANG YANG SABAR, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun ".
Dia berkata:" Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu ".
Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melubanginya. Musa berkata:" Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? "Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.
Dia (Khidhr) berkata:" Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya KAMU SEKALI-KALI TIDAK AKAN SABAR bersamaku".
Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".
Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang pemuda, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang munkar".
Khidhr berkata: "Bukankah sudah ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya KAMU TIDAK AKAN DAPAT SABAR bersamaku?"
Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku".
Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".
Khidhr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang KAMU TIDAK SABAR TERHADAPNYA.
Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.
Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.
Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).
Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak muda yang yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. DEMIKIAN ITU ADALAH TUJUAN PERBUATAN-PERBUATAN YANG KAMU TIDAK DAPAT SABAR TERHADAPNYA”
Diterangkan dengan cahaya dari QS. al-Kahfi (18) : 65-82.
Sebagai pelajaran, kepada kita bahwa Sabar itu adalah pelajaran dan rahmat dari sisi Allah, bukan karena kehebatan kita yang menciptakannya.
Jika seorang Nabi Musa saja masih dianggap kurang kesabarannya oleh Allah, maka apalagi kita.Begitu luas, tinggi, dalam dan jauhnya batas kesabaran itu, karenanya janganlah sekali-kali kita mengatakan bahwa “Sabar itu ada batasnya” kecuali diri kita sendiri yang membatasi, namun bukan kesabaran itu yang terbatasi. Juga janganlah kita merasa sombong dengan mengaku sudah sabar atau merasa bahwa kesabaran yang kita miliki ini telah diluar batas.
Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar