Jumat, 11 Juni 2010

Ketika Cinta Menggoda (serial copas) bag 1

Tercengang! Mungkin itu satu kata yang pas menggambarkan kondisi saya saat itu. Seorang akhwat senior menceritakan kisah seorang temannya yang juga akhwat, mari sebut saja si N. Beberapa waktu lalu si N ini hampir dikhitbah. Kronologisnya seorang ikhwan, sebut saja X, menyatakan kepada N tentang niatnya mengkhitbah N. Namun sayangnya niat baik si X ini tidak kunjung muncul realisasinya. Si X belum juga mengutarakan niatannya pada orangtuanya sendiri, pada murrobinya, apalagi pada orangtua dan murrobi si N. Hubungan tanpa kejelasan ini berlangsung selama beberapa bulan dan justru menjadi hubungan yang tidak sehat. Kenapa dikatakan demikian? Karena selama beberapa bulan itu, si N dan X semakin intens berkomunikasi, tepatnya lewat sms. Sms-sms yang dikirim pun bukan lagi sekedar sms biasa, namun mulai menjurus dengan munculnya panggilan-panggilan sayang diantara keduanya serta saling curhat hal-hal yang pribadi tanpa kenal waktu, termasuk masalah jam malam yang biasa berlaku di kalangan ikhwah. Astaghfirullah. Dua insan yang belum ada ikatan ini rupanya semakin dimabuk cinta. Prinsip yang selama ini dipegang teguh seperti hilang disapu badai asmara yang kian menggelora di hati keduanya. Nahas! Hubungan tanpa kejelasan ini akhirnya kandas lantaran ketidakjelasan sikap si X. Akhirnya lagi-lagi perempuan yang jadi korban.

Tercengang! Ini memang satu kata yang pantas menggambarkan perasaan seorang teman lainnya saat ini. Teman saya ini baru saja menceritakan pada saya tentang temannya, sebut saja Fulanah, yang mengalami hal hampir serupa dengan N. Hanya saja si Fulanah ini masih dalam tahap mabuk kepayang dengan seorang ikhwan, sebut saja Fulan, yang beberapa waktu lalu menyatakan niatnya untuk mengkhitbah Fulanah. Kondisi hubungan Fulanah dan Fulan saat ini semakin memburuk dengan makin gencarnya sms mesra dan sms curhat dari Fulan yang dikirim tak kenal waktu. Entah sampai kapan hubungan seperti ini akan berlanjut, hanya saja saat ini proses keduanya belum dimulai lantaran beberapa halangan dari pihak ikhwannya.

Banyak juga cerita beredar, tentang para ikhwah yang saling nge-take-in calonnya masing-masing. Misalnya, si Ronald (piss yo Uda..hahaha^__^) yang menjanjikan pada si Upik kalau dia akan menikahi Upik kelak, setelah lulus kuliah, setelah mapan, dan setelah-setelah lainnya.

Ada juga beberapa ikhwan yang saya tidak sengaja temukan, bermain-main dengan “api” ini. Misalnya ikhwan Z yang kerap mengirim sms pada akhwat Fulanah dengan bunyi antara lain seperti ini: “Lagi ngapain?” , atau “Lagi syuro dimana? Posisi duduknya seperti apa?”, atau “Sudah makan belum?”, atau “Hari ini pakai baju warna apa?”, atau “Sudah bangun?”, atau bahkan “Sudah mandi belum?”. Astaghfirullah.

Inikah potret ikhwah sekarang?
Ketika masalah hati berbicara, akankah nilai-nilai yang selama ini dipegang teguh kan hilang?
Sungguh, betapa sedih hati saya melihat seringnya fenomena ini terjadi di kalangan ikhwah. Mengapa engkau para ikhwan kerap tidak sadar kala jempol kalian menari diatas tuts-tuts handphone kalian lantaran terbawa perasaan? Mengapa engkau para akhwat kerap tidak sadar ketika kehormatanmu engkau pertaruhkan lantaran terbawa sihir asmara yang terkirim lewat sms-sms itu?

Duh cinta, kala virusmu menyerang.
Kau tutup mata, telinga, dan mulut para saudara dan saudariku.
Duh cinta, kala virusmu menyerang. Kau tutup mata mereka, sehingga meski seburuk apapun rupa pujaan hati mereka, si pujaan hati kan terlihat yang paling keren sedunia. Meski seburuk apapun citranya di mata orang lain, si pujaan hati kan tetap terlihat sebagai orang paling baik dan sempurna di dunia.

Duh cinta, kala virusmu menyerang. Kau tutup telinga mereka, sehingga meski seburuk apapun omongan orang terhadap si pujaan hati, ia kan tetap terjaga citranya dalam otak si pecinta. Meski sekasar apapun kata yang dikeluarkan, si pujaan hati kan tetap terjaga namanya dalam otak si pecinta. Meski sebanyak apapun nasihat yang dikeluarkan orang-orang yang berusaha menjaga si pecinta, telinganya tidak akan menangkap sepatah kata pun yang diberikan.

Duh cinta, kala virusmu menyerang. Kau tutup mulut mereka, sehingga mulut itu akan tetap bungkam manakala mulai muncul ketidaknyamanan dalam interaksi keduanya. Mulut itu akan tetap bungkam manakala kekerasan dalam hubungan tak terhindarkan. Pantaslah banyak kasus kekerasan yang jarang terungkap tuntas.

Dulu saya pernah berpikir bahwa para aktivis dakwah kampus adalah orang-orang “langitan” yang selalu akan patuh pada setiap perintah Allah SWT dan menjauhi setiap larangan-Nya. Seiring dengan waktu, saya mendapati kenyataan bahwa para ikhwah ini hanyalah manusia biasa saja dengan segala kekurangan yang kerap ada pada manusia pada umumnya. Sungguh saya kini menyadari bahwa mereka adalah orang-orang yang sama dengan segala problematika pribadinya, pun dalam hal percintaannya. Tak peduli dengan tingginya jabatan, pangkat, amanah atau apapun yang tengah diemban masing-masing ikhwah ini.

Mungkin semua orang sudah tahu bahwa para orang-orang “langitan” ini adalah orang-orang yang menghindari benar suatu kondisi hubungan yang kerap diistilahkan sebagai pacaran. Sampai-sampai ada lagu yang tercipta dengan lirik “…daripada kita pacaran, lebih baik sholawatan”. Dalam konsepsi ideal yang dimiliki para ikhwah, satu-satunya hubungan percintaan yang dihalalkan adalah hubungan yang terbina dalam suatu ikatan pernikahan yang diraih dengan suatu proses bernama ta’aruf. Namun ternyata oh ternyata, kejadian demi kejadian yang telah disebut di awal terus saja terjadi, tak peduli setinggi apapun jabatan yang tengah diemban, tak peduli penilaian orang lain tentang dalamnya pemahaman yang bersangkutan terhadap masalah ummat, dan sebagainya.

Kalian yang anti pacaran, tapi kalian justru mempraktikkan esensi pacaran itu sendiri, atau bahkan lebih buruk lagi. Kalian mempraktikkan suatu hubungan yang sering disebut para remaja sebagai hubungan tanpa status (HTS).

Kini haruskah kondisi ini dibiarkan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar