Minggu, 13 Juni 2010

MARI MENJEMPUT HIDAYAH

Ukhti kenapa tidak pakai jilbab?
"belum dapat hidayah".


Kenapa tidak shalat?
"belum dapat hidayah."


Kenapa tidak ikut kajian?
"belum dapat hidayah."


Kenapa tidak puasa dibulan Ramadhan?
"belum dapat hidayah”.


1001 macam dosa yang dilakukan alasan yang paling sering dikatakan
“belum dapat hidayah”.

Memang hidayah kemana? Kenapa nggak dapat-dapat?” :-).


Ibarat cahaya, ia tak menyapa kamar yang tidak dibuka jendelanya.
-FAISAL TEHRANI-


Kurangnya memahami mengenai hidayah sehingga sering dijadikan sebagai alasan, padahal jika memahami makna hidayah yang sebenarnya tentu alasan seperti ini tidak bisa digunakan untuk ‘membenarkannya’ dalam pelanggaran syara’ yang dilakukannya.

Memahami Makna Hidayah
Petunjuk (al-huda) menurut bahasa sama dengan ar-rasyad (petunjuk) dan ad-dilalah (petunjuk). Orang sering mengatakan hudaahu liddin, yaitu dia menunjukkan kepada petunjuk, atau hadaituhu ath-thariiqi wa al-baiti hidaayatan ‘arraftuhu, yaitu aku menunjukinya jalan dan rumah sesuai dengan petunjuk yang telah aku ketahui. Sedangkan kesesatan (adl-dlalal) adalah kebalikan dari arrasyad (petunjuk). Hidayah menurut syara’ adalah mendapat petunjuk dari Islam dan beriman dengannya. Sementara dlalal menurut syara’ adalah melenceng dari Islam. Sabda Rasulullah saw:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku dalam kesesatan (melenceng dari Islam)”. (Dikeluarkan Ahmad)

Allah Swt menjadikan Surga untuk orang-orang yang mendapat petunjuk, sedangkan neraka untuk orang-orang yang sesat. Artinya, Allah memberi pahala kepada orang-orang yang memperoleh petunjuk dan menyiksa orang-orang yang sesat. Jadi, dikaitkannya pemberian pahala dengan petunjuk atau siksa dengan kesesatan menunjukkan bahwa hidayah dan dlalal keduanya (berasal) dari perbuatan manusia, bukan dari Allah. Jika keduanya dari Allah maka Allah tidak akan memberikan pahala terhadap hidayah dan tidak memberikan siksa terhadap dlalal. Perkataan “belum mendapat hidyah” seakan-akan menunjukkan bahwa Allah hanya memberikan hidayah kepada orang-orang tertentu saja, lalu akan mendapat sorga bagi yang mendapat hidayah, sedang yang yang tidak mendapat hidayah akan berbuat dosa dan Allah akan memasukkan ke dalam Neraka. Hal ini tentu saja secara tidak langsung menyalahkan Allah, dan Allah Swt telah mendzaliminya, karena ketika Allah menyiksa orang yang melakukan kesesatan disebabkan penyesatan dari-Nya, berarti Dia telah mendzaliminya. Maha besar Allah serta Maha Tinggi lagi Mulia.

Firman-Nya:

“Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hambaNya”. (TQS. Fushshilat [41]: 46)

“Dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku”. (TQS. Qaaf [50]: 29)

Benar, ada beberapa ayat yang menunjukkan bahwa nisbah hidayah dan dlolalah itu datangnya dari Allah Swt. Ayat-ayat semacam ini menunjukkan, bahwa hidayah dan dlolah bukan akibat langsung dari perbuatan hamba, namun datang dari Allah Swt. Namun demikian, ada ayat lain yang maknanya berseberangan dengan makna yang ditunjukkan ayat-ayat semacam ini. Di dalam Al-Quran ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa nisbah hidayah dan dlolalah itu datangnya dari seorang hamba, bukan dari Allah Swt.

Lalu, bagaimana kita mengkompromikan pertentangan-pertentangan tersebut? Untuk meniadakan kontradiksinya, dua kelompok ayat yang bertentangan tersebut harus dipahami dengan pemahaman syar’iy.

Pertama, kita akan membahas beberapa ayat yang menisbahkan hidayah dan dlolalah kepada Allah. Ayat-ayat ini menunjukkan makna yang jelas, bahwa Allah Swt semata yang member hidayah dan dlolalah. Allah Swt berfirman :

“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki- Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya”. (TQS. Faathir [35]: 8)

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus”. (TQS. al-An’am [6]: 39)

“Katakanlah: ‘Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran’”. (TQS. Yunus [10]: 35)

Manthuq (pengertian tekstual) ayat-ayat diatas menunjukkan dengan jelas bahwa yang memberikan hidayah dan dlolalah adalah Allah Swt, bukan manusia. Ayat-ayat di atas seakan-akan memberi makna bahwa manusia tidak memiliki andil sama sekali dalam meraih hidayah dan dlolalah. Artinya, seorang hamba tidak bisa menunjuki dirinya sendiri kecuali jika mendapatkan petunjuk dari Allah. Begitu juga sebaliknya, seorang hamba tidak akan tersesat jika tidak disesatkan Allah Swt. Akan tetapi, ada qarinah (indikasi) yang memalingkan makna tekstual (manthuq) ayat-ayat diatas. Qarinah ini memalingkan makna “nisbah hidayah dan dlolalah kepada Allah Swt semata”, kepada makna lain, yaitu, “Allah-lah Sang Pencipta Hidayah dan Dlolalah, sedangkan manusia memiliki andil langsung dalam menggapai hidayah dan dlolalah”.

Kedua, qarinah syar’iyyah yang diketahui dari ayat-ayat yang menyandarkan hidayah dan dlolalah kepada hamba, bukan kepada Allah. Allah Swt berfirman:

“Katakanlah: ‘Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri’”. (TQS. Saba’ [34]: 50)

“Ya Tuhan kami mereka telah menyesatkan kami”. (TQS. al-A’raf [7]: 38)

“Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri”. (TQS. Ali Imran [3]: 69)

“Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka”. (TQS. an-Nisa [4]: 60)

Maka manthuq ayat-ayat ini memiliki penunjukan yang jelas bahwa manusialah yang melakukan hidayah dan dlalal sehingga dia menyesatkan dirinya dan orang lain, begtitu pula syaitan yang juga menyesatkan. Jadi, terdapat penisbahan hidayah dan dlalal kepada manusia dan syaithan. Artinya, manusia mendapatkan petunjuk atau kesesatan karena dirinya sendiri, bukan semata-mata akibat langsung dari “perbuatan” Allah Swt.

Ayat-ayat ini merupakan qarinah yang menunjukkan bahwa nisbah hidayah dan dlolalah kepada Allah yang ditunjukkan oleh kelompok ayat pertama bukanlah nisbah secara langsung saja. Artinya, Allah Swt semata yang menciptakan hidayah dan dlolah, bukan manusia.

Jika anda membandingkan kelompok ayat pertama dengan kelompok ayat kedua, kemudian memahaminya dengan pemahaman tasri’iy, maka anda akan melihat dengan sangat jelas, adanya pengalihan arah makna dengan yang lain.

Kelompok ayat pertama menyebutkan, “Allahlah yang menunjuki kepada yang benar”. (TQS. Yunus : 35). Sedang ayat yang lain menyatakan, “Barangsiapa ingin mendapat petunjuk maka dia menunjuki dirinya sendiri”. (TQS. Yunus: 108)

Bila dipahami secara sekilas, ayat pertama seakan-akan memberikan makna, bahwa Allah-lah yang memberikan petunjuk kepada manusia, tanpa keterlibatan dari manusia sedikitpun. Sedangkan ayat kedua menunjukkan bahwa manusia mendapatkan petunjuk karena dirinya sendiri. Kelompok ayat kedua ini telah mengalihkan pengertian ayat pertama. Bila kedua kelompok ayat ini dikompromikan, maka pengertian hidayah dalam ayat pertama adalah, Allah menciptakan hidayah di dalam diri manusia. Dengan kata lain, Allah telah menciptakan kecendrungan (qabillah) untuk memperoleh hidayah dan kesesatan pada diri manusia. Ayat kedua menunjukkan bahwa manusia adalah subjek langsung dari kecendrungan yang telah diciptakan Allah Swt tersebut. Artinya, manusia akan mendapatkan petunjuk bila ia cenderung kepada hidayah. Sebaliknya, manusia akan mendapatkan kesesatan bila dirinya cendrung kepada kesesatan.

Allah Swt telah berfirman di dalam ayat yang lain:

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”. (TQS. al-Balad [90]: 10)

Ayat ini memiliki pengertian, bahwa Allah telah menciptakan kecendrungan pada diri manusia untuk berjalan di jalan kebaikan, atau jalan keburukan. Tafsir ayat tersebut adalah, “Kami telah menciptakan kecendrungan hidayah di dalam diri manusia. Kemudian, Kami biarkan ia meraih hidayah dengan dirinya sendiri.

Allah Swt memberikan pahala kepada muhtadi (orang yang memperoleh Petunjuk) dan mengadzab al-dlaalu (orang yang sesat), serta menetapkan atas perbuatan-perbuatan manusia. Allah Swt berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba (Nya)”. (TQS. Fushshilat [41]: 46)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (TQS. al-Zalzalah [99]: 7-8)

Maka jelas dalam nash tersebut bahwa atas perbuatan manusia sendiri yang menentunkan pahala yang mengantarkan ke Sorga, sedang dosa yang akan mengantarkan ke Neraka. Sehingga, manusia akan dihisab atas pilihannya sendiri. Bila ia memilih hidayah akan mendapat pahala. Sebaliknya, jika ia memilih dlolalah, dirinya akan mendapat siksa AllahSwt.


Al-Quran Adalah Petunjuk

Al-Quran telah diturunkan pada masa Nabi Muhammad Saw, yang merupakan salah satu mukjizat Rasulullah Saw. Kerberadaan Al-Quran ditujukan kepada seluruh manusia pada masa Rasulullah dan setelahnya, yang pada dasarnya Al-Quran adalah manhajul hayah (metode hidup) bagi kaum Muslim. Pedoman hidup yang menjelaskan seluruh aspek kehidupan, sekaligus sebagai pemisah antara kebenaran dengan kebatilan. Atas dasar itu, setiap Muslim diperintahkan untuk selalu berjalan sesuai dengan Al-Quran. Siapa saja yang berjalan sesuai dengan Al-Quran tentu mereka akanmendapatkan petunjuk, penjelas, sekaligus akan diberi “furqan” (kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah).

Menukil pendapat ‘Abbas, Fairuz Abadiy menyatakan, “Yang dimaksud dengan firman Allah Swt “hudaan li al-naas” adalah Al-Quran itu berfungsi member petunjuk kepada manusia dari kesesatan. Sedangkan frasa “wa bayyinaat min al-hudaa” bermakna perkara-perkara agama yang sangat jelas dan tidak samar’. Adapun “frasa al-furqan” berarti halal dan haram, hukum-hukum dan hudud, serta semua hal yang menghidarkan seeorang dari syubhat (kesamaran).

Sehingga nampak jelas bahwa Al-Quran merupak petunjuk bagi seluruh manusia, yang menjadi sumber hukum bagi kaum Muslim yang tidak boleh diingkari dan diacuhkan. Dalam masalah ini Imam Ibnu Taimiyah berkata:

“Barangsiapa tidak mau membaca Al-Quran berarti ia mengacuhkannya dan barangsiapa membaca Al-Quran namun tidak menghayati maknanya, maka berarti ia juga mengacuhkannya. Barangsiapa yang membaca Al-Quran dan telah menghayati maknanya akan tetapi ia tidak mau mengamalkan isinya maka ia pun berati mengacuhkannya”. Selanjutnya Imam Ibnu Taimiyyah menyetir sebuah ayat yang artinya: “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku! Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini suatu yang diacuhkan”. (TQS. Al-Furqan: 30).

Melihat kondisi saat ini, keberadaan Al-Quran telah nampak diacuhkan sebagi sumber hukum dalam tatanan kehidupan. Padahal, keberadaan Al-Quran dalam penerapannya terhadap individu, masyarakat dan negara adalah kewajiban dalam seluruh aspek. Masyarakat dan negara manapun akan mendapatkan petunjuk, penjelas dan furqan bila mereka mengadopsi dan hidup sejalan dengan Al_Quran. Sebaliknya, jika sebuah Negara dan masyarakatnya jauh dari tuntunan Al-Quran maka mereka tidak akan pernah mendapat petunjuk, penjelas dan furqan. Dengan demikian, siapa saja yang mendapat petunjuk dari Allah Swt, maka mereka akan dikaruniai keberkahan, kemudahan, dan juga kesejahteraan hidup.

Namun demikian, Al-Quran hanya akan tinggal huruf yang tertera di atas kertas belaka dan tidak pernah menjadi petunjuk bagi umat manusia, jika ia tidak dibaca, dipelajari, dipahami maknanya dan diamalkan dalam realitas kehidupan. Sebagaimana masih banyaknya kaum Mislimin pada saat ini ada yang membaca atau mendengar ayat-ayat yang menjelaskan kewajiban memakai jilbab, kewajiban shalat, kewajiban menutut ilmu agama Islam, kewajiban puasa dalam bulan Ramdhan, kewajiban menegakkan Khilafah dan kewajiban yang lainnya hanya sebatas informasi, yang tidak berupaya menerapkannya. Tentu bagi mereka tidak menjadi Al-Quran sebagai petunjuk dalam kehidupannya, padahal Al-Quran telah diturunkan kepada seluruh umat Rasulullah Saw.

Benar, sesorang tidak mungkin bisa menangkap makna-makna yang terkandung di dalam Al-Quran bila dirinya tidak atau belum mampu membaca Al-Quran. Sebab, bagaimana mungkin ia bisa memahami makna-makna yang terkandung di dalam Al-Quan, sedangkan membacanya saja tidak mampu?

Seseorang yang sudah bisa membaca Al-Quran namun tidak memahami arti bacaannya, dirinya juga tidak mungkin bisa menangkap isi Al-Quran. Orang yang bisa membacanya dan memahami makna Al-Quran juga tidak akan pernah mendapatkan keberkahan dan petunjuk, jika ia tidak mau mengamalkan kendungannya.

Untuk itu, aktivitas membaca, mempelajari, memahami maknanya serta mengamalkan kandungan makna Al-Quran merupakan sebuah keharusan bagi setiap orang yang ingin mendapat petunjuk, penjelas, dan furqan sarta keberkahan hidup. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar