Minggu, 13 Juni 2010

TIPS ANAK MATA BUKUAN ALA NFH

Semua orang tua menginginginkan anaknya pintar. Semua orang tua juga menginginkan anaknya memilih kegiatan yang positif sebagai hobbynya. Salah satu kegiatan positif yang kerap diharapkan adalah anak-anaknya menyukai buku dalam arti suka membaca. Wah, ini harapan yang wajib saya dukung. Karena, dengan semakin banyak orang yang gemar membaca, maka prospek dunia kepenulisan dan penerbitan semakin menjanjikan. He3x. Namun, yang paling indah dari itu adalah pergerakan peradaban akan berjalan lebih baik ketika banyak yang mau belajar dari buku yang berisi pengetahuan, wawasan, pengalaman, dan transfer pesan dari generasi sebelumnya kepada generasi sekarang dan yang akan datang. Proses pembelajaran akan semakin signifikan. Perubahan akan semakin kuat diupayakan.

Sebenarnya setiap orang tua tidak bisa menyamaratakan anak dalam hal kesukaan membaca. Ada anak yang memang sangat senang membaca. Ada yang lebih senang bergerak, misalnya berolah raga. Ada yang lebih senang berekspresi lewat seni. Namun, membaca adalah salah satu cara mengembangkan potensi, apa pun, karena memang buku adalah sumber ilmu. Entah, apakah masih ada ilmu yang tidak ditransfer lewat buku. Dokter, menulis. Artis, menulis. Pelukis, ada juga bukunya. Koki, banyak sekali buku masakan berikut kelengkapannya. Semua sektor kehidupan menggunakan buku sebagai media penyampaian ilmu. Maka, di sinilah gemar membaca itu perlu meski kadarnya tentu berbeda satu dengan lainnya. Penulis, jelas lebih banyak membaca dari yang lain. Dosen, wartawan, nasibnya sama. Berkutat dengan buku. Beda dengan peternak, pengusaha, dan sejenisnya. Yang saya tahu, barangsiapa dengan profesi apa pun lebih banyak membaca buku tentang apa yang ditekuninya, maka ia lebih tahu, lebih berilmu dan biasanya lebih maju. Jadi, tetaplah perlu membaca dan bergaul dengan buku.

OK, masuk ke pembahasan tentang bagaimana membuat anak mata bukuan. Nah, tentunya sesuai kaidah umum pembentukan karakter anak sejak awal, pembelajaran manusia semestinya sudah dimulai sejak dalam kandungan. Maka, proses menyukai buku pun dimulai ketika anak masih bersemayam sebagai janin di perut ibunya. Lah? Kan belum bisa baca? Yaela, ibunya dong yang membaca. Janin kita kan sudah bernyawa ketika memasuki trimester pertama. Itu artinya, dia sudah menangkap stimulus dari luar. Terlebih, karena dia masih menjadi bagian utuh sang ibu, apa pun kondisi dan informasi yang diterima ibu, otomatis menjadi kondisi dan informasi yang diterima si janin. Konon, anak-anak Yahudi sejak masih janin sudah dikenalkan dengan teori ekonomi. Ibu-ibunya berkumpul, berdiskusi, mengerjakan soal-soal ekonomi dengan keyakinan bahwa si janin ikut belajar. Nah, bayangkan juga kita melakukan hal yang sama. Saat hamil, kemana-mana membawa buku (dibaca, bukan cuma dibawa). Buku adalah teman setia. Maka, janin yang dikandung pun merespon bahwa ibunya menjadi tenang, menjadi berpikir, menjadi terhibur, menjadi lebih tahu berkomunikasi dengannya, karena buku. Si ibu juga secara tidak langsung mengondisikan dirinya menyukai buku. Sesuatu yang akan berpengaruh di tahapan proses selanjutnya untuk membentuk anak mata bukuan.

Lalu, buku apa yang dibaca saat hamil? Yang pasti, buku-buku tentang kehamilan dan perawatan bayi. Bacalah buku apa pun asalkan baik, positif dan melahirkan energi positif. Sangat tidak disarankan membaca buku-buku yang hanya membuat ibu cemas, was-was, gundah gulana. Apa itu? Ya, misalnya buku ramalan bahwa kita akan bernasib sial. Yang terbaik? Bagi muslim, tentunya membaca Al Qur’an berikut kelengkapannya semisal tafsir atau Al Qur’an terjemahan. Efek positif yang dirasakan bukan hanya untuk si janin, si ibu jelas juga merasakan. Ibu akan menjadi tenang, lebih terencana dalam memasuki tahap demi tahap kehamilan dan melahirkan, termasuk nanti bagaimana merawat dan mendidik anak. Wih, kita untung bayi untung. Kalau ibu untung bayi untung, keluarga untung, masyarakat dan bangsa ikut untung. Untung semua.

Memasuki tahapan selanjutnya, yakni ketika anak sudah lahir ke dunia, maka interaksi langsung anak dengan buku bisa dimulai. Hah? Lah, ya jangan dibayangkan anak bayi kita sodori Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tidak apa-apa, kalau hanya dikenalkan di dekatnya, asal jangan diompoli saja. Sesekali letakkan buku di tangannya. Bisa juga mencarikan bantal atau mainan berbentuk buku yang bisa dibawa mandi. Kalaupun tidak (harganya mahal, mencarinya tidak mudah), cukuplah buku tulis kecil untuk dipegang-pegang meskipun berakhir menjadi serpihan tidak karuan. Beri lagi. Lagi. Lagi. Jangan lupa, saat kita bersama anak, tunjukkan bahwa kita sangat akrab dengan buku. Ia melihat itu semua dan menyimpannya.

Tahapan berikutnya, ketika anak sudah bisa mengidentifikasi benda dan sebagainya (sekitar umur 2 tahun), mulai kenalkan dengan huruf. Mulai dibacakan buku cerita. Mulai diajari membaca alam dan menghubungkan dengan huruf. Misal : Ayam, tuh Nak. Ayam. A. Eh, Pipis. PIPIS. Pe I Pe I eS. Biarkan saja kalaupun tidak merespon. Karena, respon terkait dengan tertarik atau tidak. Namun, yakinlah bahwa dia menyimpannya. Ketika nanti ia tertarik, ia akan membongkar ingatan dan bukan tidak mungkin menirukan apa yang kita terus ulang-ulang. Jangan heran kalau kita sering mendapati (seolah-olah) kita tidak pernah mengajarkan (dalam arti interaksi timbal-balik), namun tahu-tahu anak kita mengeluarkan kemampuannya. Begitu juga ketika membacakan buku cerita. Anak menyerap apa yang kita bacakan meskipun belum bisa merespon isi buku tersebut dengan kata-kata (komentar) dengan tepat. Mengapa membacakan buku cerita di tahap ini? Karena saya membedakan membacakan dengan bercerita. Yang saya sebut membacakan, benar-benar ada buku yang dibaca. Tengoklah, ketika kita bacakan cerita, anak akan tertarik dengan buku itu. Ups, pilih buku yang anak suka. Buku dongeng dengan gambar berwarna (sekalian mengenalkan warna, benda), pasti lebih mereka suka daripada dibacakan novel Islami remaja . Tidak punya? Pinjam.

Nah, saat anak sudah bisa membaca (setiap anak berbeda pencapaiannya, tergantung proses pembelajaran yang diterima), kenalkan buku sebagai barang yang berharga. Caranya? Tentu, mulai dari orang tua. Lho, kok? Karena anak-anak senang meniru orang dewasa. Anak-anak juga akan mengembalikan apa yang disuruh orang tua pada orang tua. Jika orang tua senang membaca buku, yang dikoleksi buku-buku, ketika anak ulang tahun hadiahnya buku, ketika memberi bingkisan ke orang lain juga buku, otomatis anak akan memahami bahwa buku sangat penting dalam kehidupan. Jangan pernah berharap anak senang membaca buku ketika kita sendiri jarang melakukannya. Paling-paling ketika anak diingatkan untuk membaca akan menuding kita dengan kata-kata, “Bapak/Ibu juga jarang membaca!”. Nah, lo. Sudahlah, tidak rugi kok memberi contoh langsung kepada anak gemar membaca buku. Selain anak akan meniru, kita juga bertambah ilmu. Sip, kan?

Sudah memberi teladan dalam hal membaca buku? Nah, saatnya menikmati buku bersama-sama. Ini akan menguatkan kesenangan anak (dan kita) terhadap buku sekaligus mengeratkan hubungan anak dan orang tua. Hah, sampai seperti itu? Iya, benar. Dari tahap awal janin sebenarnya sudah bisa disebut kegiatan bersama, namun saya ingin menekankan bersama di sini justru karena secara fisik sudah sendiri-sendiri. Terlebih, ketika ibu bekerja dan anak sudah bersekolah. Jadikan buku alat kebersamaan. Apa saja bentuknya? Banyak. Misal, membacakan cerita. Jangan dikira ketika anak sudah bisa membaca tidak ingin dibacakan cerita. Mereka masih ingin. Karena, membaca sendiri ya seperti kita membaca. Namun, dibacakan, maka ia melihat ekspresi orang lain terhadap buku tersebut. Nah, bacakanlah dengan penuh ekspresi. Tidak usah malu, kalau perlu mengubah-ubah suara sesuai tokoh, melakukan tindakan tokoh di cerita (misal, katak melompat, ya melompat). Karena sedikit membutuhkan waktu, pilihlah saat yang relatif santai. Sore hari, misalnya atau menjelang anak-anak tidur. Sip, selesai bercerita, kita cium mereka. Wah, luar biasa.

Kebersamaan yang lain? Agendakan jalan-jalan ke perpustakaan atau toko buku. Di sana, ada saatnya membaca dan memilih buku masing-masing. Namun, luangkan untuk membaca dan memilih buku bersama. Kalau di perpustakaan, tidak usah dibacakan, kena tegur nanti. Cukup temani dan menjawab jika anak kita bertanya hal yang dia belum mengerti. Nah, yang lebih seru (menurut saya) memilih buku bersama di toko buku untuk dibeli. Buku pilihan bersama? Apa itu? Kami, saya dan anak-anak, buku kebersamaan yang dibeli adalah buku resep masakan. Fathin, hanya menyukai buku pesawat, kendaraan tempur, dan sejenisnya. Saya dan adiknya, Azizah, jelas tidak suka buku itu. Azizah senang buku cerita, terutama dongeng putri dan binatang. Aih, sudah bukan masanya untuk saya dan Fathin juga tidak suka. Saya? Buku motivasi dan kepribadian. Jadi, buku masakan itulah buku bersama. Bukan sekedar dibeli, namun dipraktekkan bersama (Fathin suka memasak), dimakan bersama. Dobel kebersamaan, kan?

Ada lagi? Masih ada kalau mau disebutkan. Misalnya, menggambar dan mewarnai bersama. Ini berlaku jika ada anak kita yang senang menggambar dan mewarnai. Azizah senang mewarnai, jadi saya sering bersama-sama mewarnai buku yang dibelinya, sesuai arahan dia. Biasanya Azizah akan menunujuk mana gambar yang harus saya warnai, mana yang jatahnya. Nah, kita akan mengajari anak kita mewarnai yang baik tanpa dia merasa diajari. Cukup dengan membiarkan dia melihat kita mewarnai dan dia juga otomatis akan membandingkan hasil kita dengan hasilnya. Kalau Fathin, saya mencoba mengomentari pesawat-pesawat yang ada di bukunya, setelah saya coba membacanya. Dia lebih senang menerangkan. Begitu saya berkomentar sedikit, dia akan menerangkan panjang lebar apa yang dia pahami (dan hafal!). Jujur, saya sering tidak mengerti (bayangkanlah, yang dia terangkan bagian-bagian pesawat, cara kerjanya, kadang disertai sejarah dan ukuran-ukuran yang tertera di buku), tidak tertarik… tapi menyediakan kuping dan mimik seolah-olah tertarik serta memahami penjelasannya adalah hal kecil yang baru bisa saya lakukan untuknya. Saya merasa belum optimal membantu Fathin dalam hal ini… hiks. Kebersamaan yang lain, silahkan dikembangkan sendiri.

Hm, pengenalan sejak berupa janin sampai anak sudah bisa membaca, memberi contoh langsung seperti apa sosok mata bukuan, menanamkan secara nyata pentingnya buku dalam kehidupan, dan sering melakukan aktifitas “perbukuan” bersama-sama, masih perlu didukung hal lain. Belum cukup? Eng… yang saya pahami tentang mata bukuan adalah menjadikan buku prioritas. Maka, masih memerlukan usaha lain. Apa itu? Seminimal mungkin melakukan pilihan terhadap hal-hal yang mengurangi kegiatan membaca dan keinginan memiliki buku. Salah satu hal penting tersebut adalah diet TV (kalau di rumah saya bahkan No TV). TV benar-benar mampu mengurangi aktifitas membaca. Berbeda dengan menonton film yang harus mengeluarkan modal (beli CD/DVD), tenaga (pergi membeli) dan tidak bisa diganti (sekali tonton, CD/DVD tidak berubah isi, ya kan?), menonton TV tidak perlu modal. Jangan disebut listrik, TV dan perangkatnya, itu sudah jelas. Cukup pencet, menyala. Tidak suka? Pencet lagi, berganti. Cobalah hitung, berapa jam di depan televisi dalam sehari. Jika minimal tayangan setengah jam, kalikan jumlah tayangan yang ditonton. Bayangkan jika waktu tersebut digunakan untuk membaca. Bayangkan jika memiliki CD Player dan hobby menonton film (bajakan sekali pun). Tidakkah sudah bisa dihitung jika uangnya digunakan untuk membeli buku? Bukan, bukan saya anti film (kalau televisi memang tidak akan dibiarkan masuk rumah). Saya menonton film, tapi diputar di komputer. Saya menonton tayangan (sangat-sangat jarang, tapi lewat internet). Karena aktifitas menonton film dan melihat tayangan tersebut tidak selalu mudah (harus beli DVD asli, filmnya juga selektif sekali, kalau tayangan sambil memikirkan pulsa internet plus putus-putus koneksinya), maka membaca masih menjadi aktifitas pilihan yang lebih mudah dikerjakan dan diutamakan. Barangkali jika saya memiliki televisi dan hobby menonton film tanpa pandang film, buku tidak lagi terlalu menarik bagi saya. Nah, karena anak-anak saya terbiasa tidak memiliki televisi, maka mereka pun menjadikan buku sebagai hiburan dan membaca pilihan kegiatan. Oh, mereka senang bermain. Yang saya maksudkan di sini, ketiadaan televisi itu benar-benar mendukung pembentukan anak-anak saya menjadi mata bukuan. Begitu.

Apa keuntungan memiliki anak mata bukuan? Keuntungan untuk kita sendiri jelas, kita ikut terdorong mata bukuan dan melalui mata bukuan itu kita menjadi pribadi yang berwawasan. Wawasan akan membuat kita lebih bijak dalam memilih langkah-langkah kehidupan. Memiliki anak mata bukuan juga membuat kita tergenjot untuk terus belajar karena seringkali mereka bertanya, meminta saran, sesuatu di luar dugaan. Misalnya, saya pernah diskusi dengan Fathin tentang peran, hak dan kewajiban anggota keluarga. Berhubung dia kadang membaca juga majalah-majalah “dewasa” saya (Ummi, Nikah), diskusi yang diawali dari materi pelajaran IPS kelas 2 SD tersebut membuat dia menganalisis kondisi keluarga kami, membuat kesimpulan, dan sekaligus mengajukan saran. Saran yang belum saya penuhi. Apa itu? Rahasia, ah. Yang jelas, analisisnya, pendapat, kesimpulan dan saran yang dia sampaikan benar-benar membuat saya terpana, tidak bisa berkata-kata (selain kemudian mendiskusikan lebih lanjut), dan berhari-hari hanya memikirkan sarannya. Uaaaah, ampun deh. Untunglah akhirnya dia memahami penjelasan saya tentang situasi, kondisi, dan perencanaan saya. Di luar itu, masih banyak hal-hal lain yang mereka tanyakan dan membuat saya harus mencari jawaban. Misal, ketika bertemu istilah atau kata yang tidak dimengerti. Bahkan, ketika membaca komik Kobo Chan (saja), bisa muncul pertanyaan yang mau tidak mau membuat saya mencari tahu tentang Jepang agar penjelasan itu tidak hanya berhenti di batas arti tapi sesuai dengan konteks Jepang dan Indonesia sendiri. Nah, luar biasa kan pengaruhnya kepada kita dari sisi keilmuan?

Keuntungan memiliki anak mata bukuan yang lain adalah mereka relatif lebih mudah diarahkan karena apa yang ada di buku cenderung mereka jadikan acuan. Maka, ketika anak kita senang membaca buku, banyak hal terkait dengan adab, tata cara, akhlaq dan karakter-karakter positif bisa tersampaikan melalui bacaan. Kesan menggurui dan memerintah sebagai orang tua bisa terkurangi. Misalnya, ketika anak senang marah, kita ingatkan dengan bacaan tentang tokoh yang pemarah, katakanlah namanya si Berang. “Ah, kalau lihat adik marah, Ibu jadi ingat si Berang.”. InsyaALLAH akan jauh lebih mengena daripada memberi label “Adik nih marah lagi, marah lagi.”. Anak akan lebih tersinggung, apalagi ditambah ekspresi wajah ibunya yang terlihat sangat tidak nyaman, mengancam, kesal, dan sejenisnya.

Masih sangat banyak keuntungan memiliki anak mata bukuan, baik keuntungan untuk orang tua maupun tentu untuk si anak sendiri. Silahkan dikembangkan, karena memang tulisan ini dibuat untuk stimulus, rangsangan, supaya para orang tua semakin ingin tahu dan mencari tahu bagaimana menjadikan anak menyukai buku. Kata kunci utama, mulailah dari orang tua terlebih dahulu. Dibesarkan oleh orang tua yang penggemar buku, saya pun menjadi penyuka buku, anak-anak saya juga ikut menyayangi buku. 3 generasi sudah mewariskan sifat kutu bukuan dan saya yakin masih akan diteruskan ke generasi berikutnya alias cucu saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar