Kesetiaan mencerminkan kekuatan karakter. Mudah sekali mengucapkan janji setia, namun terkadang sulit untuk menjalaninya karena banyak godaan yang bisa menggoyahkan kesetiaan. Tetapi dalam keadaan apapun kesetiaan harus dijaga, sebab tidak mungkin mempertahankan keindahan cinta tanpa kesetiaan.
Manusiawi sekali kalau sewaktu-waktu mengagumi dan menyukai orang lain yang sangat menarik, namun kesetiaan akan mencegah mengkhianati kekasih dengan cara apapun. Kesetiaan juga akan diuji oleh situasi dan kondisi yang buruk. Kesetiaan akan memilih untuk tetap mencintainya ketika dia sakit, ketika dia tidak berdaya, atau ketika dia tidak menarik lagi secara fisik. Demikianlah yg bisa digambarkan dg kesetiaan seorang kekasih dg kekasihnya.
Namun jika dilihat lebih luas tentang arti sebuah kesetiaan secara mendasar memang memiliki keterkaitan dengan keimanan, karena kuat tidaknya sebuah kesetiaan ditentukan oleh seberapa kokoh keimanan yg dimiliki.
Dalam Al Qur'an memuat tentang penolakan semua kesetiaan selain Kepada Allah, kecuali kesetiaan yang diridhoi oleh Allah. an-Nisa ayat 60, An-Nahl : 36, Al-A’raf ayat 3.
Artinya, persaksian yg diucapkan dg syahadat adalah sebuah komitment untuk memegang teguh yg dipersaksikan, di i'tikadkan dalam hati, diucapkan dg lisan serta dibuktikan dg amal perbuatan. Dengan demikian, ketika kesetiaan dilanggar sebenarnya melanggar 'keimanan' yg dipersaksikan.
Karenanya, dalam dimensi yg luas hendaknya setiap individu memandang dan belajar dari 'makna syahadat' atau setiap persaksian yg diikrarkan.
Buat qt yg diperlakukan tidak setia, hendaknya melihat secara mendalam apa yg melatarbelakangi dari sebuah tindakan, karena terkadang apa yg nampak dg apa yg diniatkan berbeda, dg demikian akan membuat qt tidak mudah utk menyikapi dg cara yg tdk bijaksana.
Semoga sedikit sharing ini, dapat bermanfaat. wallahua'lam...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar