bahkan dari terungku dapur sebuah gubuk di tengah-tengah kebun pinang di Parsanggrahan
suara gelegak air di panci tertangkap
yang dijelmakannya jadi dua jari terangkai menjadi sebuah sentilan yang akan memerahkan cuping para serigala;
juga dari kejauhan tengah-tengah samudera
gemuruh amukan gelombang pasang terekam
yang diubahnya jadi teriakan
dan disusunnya menjadi dentum drum musik heavy metal yang memecah gendang telinga gajah dan singa.
dari desir bayu berkisar yang layangkan bermiliar cinta
ditangkapnya makna demi makna
satu demi satu
disusunnya jadi berjuta nada
dan dirangkainya jadi beribu lagu yang membelai jiwa-jiwa perindu,
juga dari gulungan topan yang hantamkan ratusan murka
direnggutnya sobekan demi sobekan
satu demi satu
disusunnya jadi lembaran-lembaran karya pembebasan dari penjajahan kata terhadap jiwa
dan jiwa-jiwa bebas pun berkata : “wahai jiwa-jiwa merdeka”
dari butir-butir pasir yang serakkan jutaan kerendahan
dipungutnya cuilan demi cuilan
satu demi satu
diuntainya jadi bongkahan-bongkahan bait sajak tempat jiwa-jiwa resah berpijak agar nikmati tenangnya kehidupan ;
dan jiwa-jiwa yang tenang pun menghimbau: “wahai jiwa-jiwa yang puas”
juga dari tumpukan rekah tanah yang rontokkan jutaan keangkuhan
dikutipnya gumpalan demi gumpalan
satu demi satu
ditatanya jadi bentuk-bentuk pigura yang membingkai langkah bangkai supaya siap menjadi kanvas bagi Sang Pelukis menorehkan cat dan menggoreskan kuas-Nya
dan bangkai-bangkai yang hidup dari Sang Hiduppun berbisik: “wahai diri-Ku”
menurutku,
dialah penyair itu:
yang menangkap pesan dedaunan, pepohonan, hingga gumintang
dan menggubahnya jadi serenada
dialah penyair itu:
yang menyusuri kedalaman jiwa untuk nemukan air hidup dan kembali ke kefanaan
disuguhnya mereka yang merasa hidup
tetes demi tetes
sehingga pahamlah mereka arti mati,
dialah penyair itu:
yang berjalan dalam kuantum waktu untuk memperoleh buah tangan berupa kabar dari masa datang
disampaikannya kabar itu kepada mereka yang merasa mati
kalimat demi kalimat
sehingga mengertilah mereka makna hidup.
sedangkan aku tak kuasa apa jua, bahkan menoreh sebaris sajak untuk ungkap rasa:
betapa mengharu itu puisi bernyanyi
penuhi relung sanubari
hingga raja api angkara pun menyingkir dari hati
hanya dengan tetesan embun dari perasan gita karyanya.
karena aku bukan penyair.
***
02.38; saat menjelang sahur
Padang Sidempuan, 11 ramadhan 1430 H (2 September 2009)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar