Selasa, 25 Mei 2010

MENCAPAI KETENANGAN DAN KEDAMAIAN HATI

Asslmkm. wr.wb.
Facebooker's yang selalu membaca penjelasanku...

Masalah dzikir meskipun Allah SWT telah membentangkan keutamaan-keutamaannya dan menjanjikan hadiah-Nya kebanyakan orang (hampir semuanya) tdk mau melakukan atau mengerjakannya. Padahal bila melakukan atau mengerjakan suatu dzikir itu mereka dapat merasa aman dan tenteram sebagaimana ditegaskan dalam Surat Ar-Ra'd ayat 28, bhw "...maka hatipun akan merasa aman dan tenteram". Semestinya dengan ayat ini, kita tidak merasa canggung atau ragu-ragu.
Penyebab tidak aman dan tenteram berawal dari berduka atau hatinya gelisah, dan terjadinya berduka atau gelisah itu karena ulah otak yang bertentangan dengan hati, sehingga hati tidak tenteram dan terganggu. Contohnya, jika anda berbuat dosa, dan anda tahu bahwa perbuatan yang dilakukan itu berdosa, tahu juga ancamanNya. Selanjutnya secara naluri pikiran anda akan membela diri dan menyangkal (mencari pembenaran) yang bertentangan dengan kata hati. Hati tetap mengakui hal yang sebenarnya dan hati selalu pada posisi yang benar sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An-Najm ayat 11, bhw "Hati tiada berdusta apa yg dilihatnya".

Lalu pertanyaannya, bagaimana cara mengatasi untuk mencapai ketenangan dan kedamaian bathin ini?

Satu-satunya jalan adalah dengan cara menenangkan diri atau menetralisir anggota tubuh. Dalam ajaran Islam pelaksanaan penenangan diri dan penetralan anggota tubuh dengan “ berdzikir”, bermunajat memohon pertolongan Allah SWT (waktu yg baik adalah malam hari disaat sepi dan heningnya kehidupan).

Waktu di dalam Islam sangat dihargai dan dimuliakan, dan Allah SWT telah mengingatkan manusia berkali-kali akan pentingnya "waktu", yaitu dalam surat al-'Ashr, al-Fajr, ad-Dluha dan msh banyak lagi. Allah SWT bersumpah atas nama waktu, agar manusia dpt memahami makna waktu. Berfikir, menerung, serta mengingat kembali tentang amal ibadah apa yang telah dilakukan dalam mengisi waktu-waktu tersebut. Jika melakukan perbuatan dosa, maka istighfar sebagai penawarnya, dan jika waktu-waktu itu diisi dengan kebajikan, selanjutnya adalah rutinitas. Hal ini, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Furqan ayat 62, "Dia (Allah SWT) menjadikan malam dan siang silih berganti untuk memberi waktu (kesempatan) kepada orang yang ingin mengingat (mengambil pelajaran) atau orang yg bersyukur".
Penentuan waktu (janji menemui Allah SWT) berdzikir baik dalam al-Qur'an maupun hadist bisa siang atau malam (tidak secara tepat ditentukan), hanya disebutkan dalam surat Al-Imran ayat 41, "Berdzikirlah kepada Allah pagi dan petang", selanjutnya dalam surat Ad-Dahr ayat 25, "Dan sebutlah nama Tuhanmu pagi dan petang. Dan di sebagian malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya di malam yang panjang". Coba tengok surat Qaf ayat 40, "Dan bertasbihlah kepada-Nya dalam sebagian malam dan di akhir sholat", surat Thaha ayat 130, "Bertasbihlah pada beberapa jam dari malam...".

Menurut Imam al-Ghazali dalam penentuan waktu (janji menemuiMu) untuk sholat tahajjud membagi enam alternatif, yaitu : (1) Seluruh wkt malam, sebagaimana dilakukan oleh Sa'id bin Musayyab, Fudhail bin 'iyadh, Abu Abdillah al-Khawas, Thawus dan lain lain (2) Separuh malam (jam 00.00 WIB) sebagaimana Surat al-Muzammil ayat 3, "seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit", (3) Sepertiga malam (antara jam 22.00 wib - jam 23,00 wib),(4) Dua pertiga malam atau jam 02.00 wib - 03.00 wib, sebagai yang dilakukan oleh Dhigham bin Malik, (5) Seperenam malam, sebagaimana surat Shaad ayat 17, (6) Kira2 empat rakaat atau dua rakaat sebelum fajar.
Baik sholat tahajud dan dzikir, orang dpt menggunakan waktu yang tepat dan lebih khusyu' (sebaiknya malam hari), maka Allah SWT akan memberikan kemenangan dan rahmat-Nya sebagaimana dijelaskan dalam surat Az-Zumar ayat 9, "Atau adakah orang yang berbakti di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, dalam keadaan takut kepada adzab akherat dan mengharap rahmat Tuhannya? Katakanlah :"Adakah sama mereka yang tahu dan mereka yang tidak tahu".
Demikian pula dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Turmudzi, bahwa dari Amr Ambasah, menanyakan kepada Rosulullah SAW, "Malam manakah yang lebih didengar doa?" Nabi menjawab, "Tengah Malam". Nabi Daud a.s. berdoa :"Wahai Tuhanku, Sesungguhnya aku amat suka berbuat ibadah kepadaMu. Maka waktu manakah yang lebih utama?". Maka diwahyukan Allah kepadanya : "Wahai Daud, Janganlah kamu bangun pada awal malam dan jangan pada akhir malam. Sesungguhnya orang yang bangun awal malam, niscaya ia tidur pada akhir malam. Dan orang yang bangun pada akhir malam niscaya tidak bangun pada awal malam. Tetapi bangunlah tengah malam sehingga engkau besunyi-sunyi dengan Aku dan Aku berkhalwat dengan engkau dan sampaikanlah kepada-Ku segala hajat engkau". Dari uraian tersebut dpt disimpulkan bahwa janji menemui Allah SWT baik dalam sholat tahajud dan dzikir ditentukan "tengah malam".

Kembali pada masalah dzikir, bahwa pola umum yang dilakukan dalam pelaksanaan dzikir adalah :
1. Mencari tempat yang tenang, tidak terlalu terang dan berada ditempat sekurang-kurangnya selama 30 menit tanpa diganggu orang. Duduk dengan tenang dalam sikap yang nyaman dan santai serta mata terpejam.
2. Dengan keyakinan, lemaskanlah seluruh otot tubuh yang dimulai dari kaki sampai kepala.
3. Mengatur pernafasan. Lakukan inspirasi yang dalam dengan diikuti oleh istirahat beberapa saat dan selanjutnya dengan mengucapkan Allah, “ya Allah” atau “Laa ilaaha illallaah”. Setelah selesai (20 menit), tetaplah duduk untuk beberapa saat dan mata dibuka kembali.
4. Jangan memikirkan apakah kita berhasil atau tidak. Tinggallah tetap pasif dan membiarkan agar yang dilakukan tetap membekas/menguasai diri kita (biasanya berbagai fikiran atau angan-angan masuk ke benak kita dan sebaiknya diabaikan saja).

Pelaksanaan dzikir tersebut sebaiknya dilakukan secara teratur pada malam hari sebelum tidur atau pagi hari setelah bangun tidur (selesai sholat shubuh). Bila ketenangan dan kedamaian bathin anda tercapai, maka kesehatan jiwa dan raga dengan iman yang kuat, tentunya Allah SWT membantu membukakan fikiran anda sehingga selalu berkeinginan menghadap kepada-Nya dan berpaling dari nafsu. Selanjutnya Allah SWT memberi jalan keluar dari kesulitan yang diridhoi-Nya melalaui indra keenam yg disebut Ilham. Untuk itu, marilah kita menghias dan menikmati hidup ini dengan suatu perjuangan sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Ankabut ayat 69, "Dan orang-orang yang berjuang dalam urusan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada jalan Kami".

Bila Anda bermaksud mengobati kedukaan Anda, terlebih dahulu anda mendekatkan diri kepada Yang Memberi Duka (Allah SWT), kemudian memohon untuk dilepaskannya kedukaan itu karena hanya Dialah Dzat Yang Memberi ketenangan jiwa. Ketrentraman jiwa itu akan membawa kepada kenikmatan pada segala karunia-Nya baik berupa nikmat maupun selainnya. Semuanya itu datang dari dalam diri anda sendiri.

Imam al-Ghazali, berkata "Kenikmatan itu tidak datang, selain dari kejinakan hati dan kecintaan. Kejinakan hati itu, tidak timbul selain daripada terus menerus menghadapi kesulitan dan keberatan pada masa yang panjang, sehing keberatan itu menjadi biasa". Selanjutnya Imam al-Ghazali, berkata "Bagaimanakah dipandang ini jauh dari kebenaran, sedang manusia itu pada mulanya merasa berat memperoleh makanan yang akan mengenyangkannya. Merasa kesulitan memakannya. Dan membiasakan diri padanya, lalu kemudian menjadi persesuaian dengan tabiatnya, sehingga ia tidak sabar lagi. Jiwa itu membiasakan memikul apa yang dirasa berat, sehingga apa yg dibiasakannya menjadi kesenangan".

Jadi kedukaan itu biasanya ditimbulkan oleh dirinya sendiri (bukan dari orang lain), sedangkan apabila merasa berduka karena orang lain sebenarnya adalah pantulan dari dirinya sendiri. Contohnya, anda mencintai seseorang, kemudian orang yngg anda cintai itu meninggal, maka sedihlah anda. Dan kesedihan itu datang pada diri anda sendiri, mengapa menaruh cinta kepadanya yang mengakibatkan berduka? Kedukaan itu akan lenyap bila anda sendiri yang melenyapkannya, dan salah satu cara melenyapkannya adalah dengan mengingat Allah SWT (dzikir kpd Allah) setiap saat, dan melupakan pantulan duka itu.

Bagaimanakah cara mengingat Allah SWT untuk mencapai ketenangan jiwa dlm rangka melenyapkan kedukaan? Yang pertama dilakukan adalah timbulkan keyakinan yang kuat sebagaimana meresapi firman Allah SWT dlm surat Al-Raad ayat 28 dan surat al-Muzammil ayat 6 (tolong buka al-Qur’an dan terjemahannya). Yang kedua adalah menentukan waktunya malam hari. Dalam mengharap kesembuhan duka dengan dzikir malam hendaknya menyertakan hati (bukan hanya ucapan melalui mulut tanpa kehadiran hati di dalamnya).

Imam al-Ghazali berkata,"bahwa yang membawa bekas yang bermanfaat yaitu Dzikir yang terus menerus, disertai dengan hati". Bagi anda yang belum terbiasa menghadirkan hati dalam dzikir hendaknya melatih diri sedikit demi sedikit. Bila anda menghadapi hidup ini dengan keyakinan yang sungguh-sungguh bahwa pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa, anda bisa mengatasi kesulitan anda, hal ini berlaku dalam keadaan apa saja yang kita temui dalam hidup ini, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-A'raf ayat 55 (tolong buka al-Qur’an dan terjemahannya) .

Selain persiapan keyakinan yang kuat, waktunya malam dan kehadiran hati dalam pelaksanaan berdzikir juga hendaknya :
1. Dengan pakaian yang bersih.
2. Badan dalam keadaan suci, syukur bila ada wangi-wangian karena yang demikian itu sesungguhnya akan menambah kegairahan dan ketenangan dalam pelaksanaan dzikir.
3. Dalam berdoa (dzikir) sebaiknya menghadap kiblat.
4. Mencari tempat yang tenang, deng penerangan yang tidak terlalu terang.
5. Dengan keyakinan, lemaskanlah semua otot tubuh dimulai dari kaki sampai kepala (maksudnya menyadari bahwa anda adalah makhluk yang lemah).
6. Lakukanlah dengan inspirasi yang dalam.
7. Sebelumnya diawali dengan sholat lebih dahulu, kemudian melakukan dzikir yang anda kehendaki.

Semoga anda semua dapat mengamalkannya dan mudah-mudahan Allah SWT mengabulkan doa (dzikir) untuk mengobati kedukaan anda...amiin.
Wasslmkm. wr.wb. (MM2552010)

1 komentar:

  1. thanks yo tas tips nya...ane kan coba...

    BalasHapus