Jumat, 11 Juni 2010

Easy come easy go

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa Allah SWT berfirman: “Jika hambaKu berniat melakukan kebaikan tapi tidak dikerjakannya, maka Kutuliskan baginya satu kebaikan, dan jika dikerjakannya maka Kutulis baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipat. Jika ia berniat melakukan kejahatan tapi tidak dikerjakannya demi Aku, maka Kutulis juga satu kebaikan. Jika ia berniat buruk dan dikerjakannya, maka Kutulis hanya satu keburukan” (HR Bukhari & Muslim).

Subhanallah… Luar biasa rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba2Nya. Sampai2 niat baik saja sudah dinilai satu kebaikan. Niat buruk tapi urung dikerjakan, juga dicatat sebagai satu kebaikan. Secara matematis, peluang seorang muslim untuk masuk surga atau masuk neraka mestinya 10: 1 atau bahkan 700 : 1 seandainya dalam sehari ia melakukan satu kebaikan sekaligus satu keburukan. Kalau ia bersedekah misalnya, ganjarannya juga dijanjikan 700 kali lipat bahkan lebih (Al Baqarah: 261) asalkan ikhlas dan hartanya halal.

Tapi… ini yang kurang enak, pahala dan dosa memiliki sifat kimia yang berbeda. Pahala mudah didapat dan juga mudah menguap. Easy come easy go. Sementara dosa, khususnya kepada sesama manusia bersifat relatif “stabil” sampai kita benar2 bertobat dan minta kerelaan dari orang yang dizhalimi fisik maupun dilanggar kehormatannya.

Ambillah contoh QS Al Baqarah: 264 tentang sedekah. Allah melarang kita menyebut2 pemberian atau menyakiti hati orang yang menerima sedekah karena hal itu akan membatalkan pahala sedekah. Pada ayat tsb digambarkan sedekah yang di-ungkit2 ibarat “batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih”. Tidak ada sisanya (pahala) sama sekali. Bukan hanya terancam tidak memperoleh pahala dari sedekahnya, dalam riwayat lain disebutkan tiga golongan yang tidak akan masuk surga, yaitu: durhaka kepada orang tua, peminum khamar, dan orang yang menyebut-nyebut pemberiannya (HR Turmuzi & Ahmad).

Bisa jadi kita pernah dengan “ikhlas” membantu seseorang dengan harta yang cukup banyak. Namun ketika kita minta bantuan waktu atau tenaganya karena kita benar2 perlu bantuan, dia menolak dan berdalih dengan alasan yang (menurut kita) di-buat2. Lalu kita ngomel, meng-ungkit2 jasa dan bantuan yang selama ini kita berikan, mengatakannya tidak tahu balas budi dll. Ini jelas me-nyebut2 pemberian dan pastinya menyakiti hati yang menerimanya. Kebaikan yang mungkin sudah kita tanam ber-tahun2 akhirnya menguap begitu saja tanpa bekas. Mirip2 dengan hal ini adalah beberapa caleg yang menarik hibahnya dari sejumlah masjid setelah gagal mendulang suara. Ini bahkan lebih parah lagi. Nabi SAW mengibaratkan orang itu seperti anjing yang memakan kembali muntahannya; kal kalbi ya’udu fi qai’ihi (HR Bukhari & Muslim).

Ada kalanya kita ini ke-GR-an dengan amal kebaikan yang kita perbuat, akhirnya terjebak penyakit ujub dan riya’ yg akhirnya malah sengsara. Tentang masalah ini lihat catatan sebelumnya di:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=137922092245

Atau ada lagi yang kelewat yakin bahwa pahala amalnya telah melampaui dosa kezhalimannya terhadap sesama makhluk. Lalu lahirlah sosok2 yang saleh secara ritual tapi zhalim secara sosial. Ilmu, ibadah dan semangat dakwahnya patut diacungi jempol. Namun, di sisi lain, lidahnya mudah mengumbar kata2 keji, ringan menggunjing, meremehkan dan memberi gelar buruk pada orang lain. Menyebut orang yang tidak sepaham dengan sebutan anjing, khawarij, teroris, budak thogut dsb. Orang seperti ini potensial masuk golongan manusia yang bangkrut di akhirat kelak.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda, “Tahukah kalian orang yang bangkrut?” Sahabat menjawab, “Orang bangkrut itu adalah orang yang tidak punya dirham maupun harta”. Nabi bersabda, “Orang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan pahala sholat, puasa dan zakat. Tapi ia juga membawa dosa karena mencaci-maki, menuduh tanpa bukti, memakan harta orang, menumpahkan darah, dan menyakiti fisik orang lain. Maka diambillah dari kebaikan2nya untuk menutupi semua kesalahan itu. Jika kebaikan2nya telah habis sebelum semua kesalahannya tertebus, maka diambillah dosa-dosa orang yang dizhalimi itu untuk dipikulkan kepadanya hingga akhirnya ia diseret masuk neraka” (HR Muslim, Turmuzi dan Ahmad).

Dan peliharalah dirimu dari hari dimana seseorang tidak dapat membela orang lain walau sedikitpun; dan tidak diterima syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. (Al Baqarah: 48)

Wallahu a’lam bish-showab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar