Jumat, 11 Juni 2010

Mewaspadai Jebakan Riya’

Di kalangan umat ini, setidaknya ada tiga kelompok manusia yang biasanya populer; mujahid atau pejuang di jalan Allah, orang alim yang mengajarkan ilmunya, dan orang kaya yang dermawan. Tentang keutamaan seorang syahid, Anas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda :
“Tiada seorangpun yang telah masuk surga lalu ingin kembali ke dunia untuk memperoleh sesuatu yang ada di dalamnya kecuali orang yang mati syahid. Dia berharap untuk kembali ke dunia sehingga terbunuh kembali (sebagai syahid) sebanyak sepuluh kali, karena apa yang didapatkannya dari kemuliaan (bagi para syuhada)”. (H.R Bukhari dan Muslim).
Orang yang bersedekah di jalan Allah dijanjikan dibalas 700 kali lipat bahkan lebih (Al Baqarah: 261), bahkan termasuk karakteristik orang yang dijanjikan surga dan ampunan (Ali Imran: 134). Adapun orang beriman dan berilmu dilebihkan beberapa derajat di atas orang kebanyakan (Al Mujadilah: 11). Bahkan para ulama ini disebut sebagai pewaris para nabi.

Ketenaran pada hakekatnya tidak tercela. Tiada yang lebih terkenal daripada nabi dan khulafaur rasyidin. Bahkan menurut Michael H. Hart (1978), Nabi Muhammad merupakan tokoh nomor satu paling berpengaruh dalam sejarah. Ketenaran yang tidak dipaksakan dan bukan didasari oleh niat ambisius, bukanlah kesalahan. Namun, menurut Imam Al-Ghazali Ketenaran itu dapat menjadi fitnah bagi orang-orang yang lemah iman.

Nabi SAW pernah bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas diri kalian adalah syirik kecil". Ditanya, “Apakah syirik kecil itu?” Dijawab, “Riya (pamer)". Sesungguhnya Allah SWT akan berkata kepada mereka pada hari kiamat nanti ketika semua amal dibalas, “Pergilah kalian kepada siapa kalian memperlihatkan amal-amal kalian di dunia, dan lihatlah apakah kalian mendapat balasan dari mereka?” (HR Ahmad).

Menurut para ahli orang yang celaka adalah orang-orang yang riya atau mempunyai maksud tertentu kepada selain Allah. Celakanya lagi, riya merupakan permasalahan hati yang tidak tampak dari luar, sehingga sulit untuk mengetahui apakah dalam suatu masalah tercampur riya di dalamnya. Menurut Ibnu Abbas, riya diibaratkan seperti semut hitam yang merayap di atas batu hitam di tengah malam gelap gulita. Begitu halus dan samar sehingga sering tidak terdeteksi. Imam Al-Ghazali menuturkan, “Manusia itu binasa kecuali orang yang berilmu; manusia berilmu itu lalai kecuali yang beramal; orang beramal itu tertipu, kecuali orang yang ikhlas”.

Dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: Pada hari kiamat nanti ada tiga orang yang pertama kali dihisab. Pertama orang yang mati syahid, maka diperlihatkan kepadanya nikmat yang akan diterimanya, lalu ditanya, “Apa yang sudah kamu lakukan?” Ia menjawab, “Aku berperang di jalanMu hingga menemui syahid”. Dijawab, “Kamu bohong, kamu berperang hanya karena ingin disebut pemberani, dan telah dikatakan demikian”. Maka diperintahkan untuk menyeret pada mukanya dan ia dilempar ke neraka.
Kemudian seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya serta fasih membaca Al Quran, maka diperlihatkan kepadanya nikmat yang bakal diterimanya, dan ditanya, “Apa yang sudah kamu perbuat?” Ia menjawab, “Aku belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Quran di jalanMu”. Dijawab, “Engkau dusta, engkau belajar ilmu karena ingin disebut orang alim, dan membaca Al Quran karena ingin disebut qari, dan telah dikatakan demikian”. Maka diperintahkan untuk menyeret pada mukanya dan ia dilempar ke neraka.
Lalu seseorang yang diberi banyak harta dan banyak berinfak di jalan Allah. Maka diperlihatkan kepadanya nikmat yang akan diterimanya, lalu ditanya, “Apa yang sudah kamu lakukan dengan harta itu?” Ia menjawab, “Tidak kutinggalkan satu jalanpun yang Engkau ridhai untuk menginfakkan harta, kecuali aku menginfakkan hartaku pada jalan itu”. Dijawab, “Engkau bohong, engkau melakukannya hanya karena ingin disebut dermawan, dan telah dikatakan demikian”. Maka diperintahkan untuk menyeret pada mukanya dan ia dilempar ke neraka. (HR Muslim, Nasa`iy dan Ahmad).

Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat riya’ dan jadikanlah seluruh amal kami semata-mata untuk memperoleh keridhoanMu. Birahmatika ya arhamar-raahimien.

1 komentar: